11 jam yang lalu
Pangannews.id - Ancaman tsunami masih menjadi salah satu risiko bencana terbesar di Indonesia yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif. Di tengah keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini banyak bergantung pada sensor gempa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan perangkat pemantau muka air laut yang diklaim mampu mendeteksi anomali gelombang secara langsung.
Perangkat bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) itu telah beroperasi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia selama enam tahun terakhir. Alat yang dikenal secara internasional sebagai Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) tersebut dirancang untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami, terutama yang terjadi dekat dengan sumber gempa atau letusan gunung api.
Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin, mengatakan Indonesia membutuhkan pendekatan berbeda dalam sistem peringatan dini tsunami karena karakteristik bencananya tidak selalu sama dengan negara lain.
Menurutnya, sebagian besar tsunami di Indonesia tergolong nearfield tsunami atau terjadi dekat dengan sumber bencana sehingga waktu yang tersedia untuk evakuasi sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat pemantauan langsung terhadap perubahan muka air laut menjadi krusial.
“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik,” kata Semeidi, dikutip dari laman resmi BRIN.
Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan pembacaan aktivitas gempa, PUMMA memantau perubahan muka laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik. Informasi yang terekam dapat dikirimkan secara hampir real time ke pusat data untuk dianalisis lebih lanjut.
Salah satu keunggulan sistem ini terletak pada strategi penempatannya. BRIN memanfaatkan pulau-pulau kecil di sekitar wilayah rawan bencana sebagai "pelampung alami" di tengah laut. Sensor dipasang di pulau yang berada dekat sumber ancaman sehingga kenaikan muka air laut yang tidak wajar dapat terdeteksi lebih cepat.
Semeidi mencontohkan kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau yang menjadi salah satu lokasi strategis untuk pemasangan alat. Dengan pendekatan tersebut, informasi awal mengenai potensi tsunami dapat diterima dalam waktu kurang dari lima menit.
Kemampuan alat tersebut pernah diuji dalam kejadian nyata. Saat gelombang tsunami akibat letusan gunung bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga mencapai perairan Indonesia pada Januari 2022, jaringan PUMMA berhasil mendeteksi perubahan muka laut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang.
Hingga 2021, BRIN telah memasang delapan unit PUMMA di sejumlah wilayah, yakni Lampung, Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat, dan Jakarta.
Selain untuk mendeteksi tsunami, perangkat tersebut kini mulai dimanfaatkan untuk memantau banjir rob yang semakin sering terjadi di kawasan pesisir. Salah satu penerapannya berada di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, yang kerap terdampak pasang air laut.
Data dari alat tersebut digunakan untuk mendukung perencanaan perlindungan pantai dan pengelolaan kawasan pesisir, termasuk di wilayah Pantai Utara Jawa yang menghadapi ancaman penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.
Meski demikian, cakupan pemantauan masih menjadi tantangan. BRIN menilai jaringan sensor perlu diperluas, terutama ke kawasan Indonesia timur yang masih memiliki keterbatasan sistem pemantauan tsunami.
Selain ancaman gempa megathrust, Indonesia juga menghadapi risiko tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik. Karena itu, penguatan jaringan pemantauan gunung api dan muka laut dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk mempercepat peringatan dini dan memperluas perlindungan bagi masyarakat pesisir.
Editor : Adi Permana
Senin, 25 Mei 2026 19:54 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:43 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 12:35 WIB
Sabtu, 16 Mei 2026 14:17 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...