Susu Oplosan Kini Bisa Dideteksi Tanpa Laboratorium

Pers Pangannews

10 jam yang lalu

news
BRIN kembangkan sistem deteksi cepat pemalsuan susu. (Foto : dok. BRIN)

Pangannews.id - Pemalsuan susu masih menjadi ancaman serius bagi keamanan pangan. Praktik ini umumnya dilakukan dengan menambahkan senyawa tertentu untuk memanipulasi kandungan protein sehingga kualitas produk tampak lebih tinggi dibanding kondisi sebenarnya.

Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan metode deteksi cepat untuk mengidentifikasi susu yang dicampur bahan pencemar seperti melamin dan urea.

Kedua zat tersebut kerap digunakan dalam praktik pemalsuan karena mampu meningkatkan kadar nitrogen yang menjadi salah satu indikator kandungan protein.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra, mengatakan pengawasan terhadap kualitas susu perlu diperkuat mengingat produk tersebut dikonsumsi luas oleh masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.

Menurutnya, penggunaan melamin dalam susu dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Senyawa tersebut diketahui berisiko menyebabkan batu ginjal, gagal ginjal akut, bahkan kematian pada kasus tertentu.

Sementara itu, konsumsi urea dalam jumlah berlebihan dapat memicu gangguan metabolisme dan sistem pencernaan.

"Melamin dan urea sering digunakan untuk meningkatkan kadar nitrogen sehingga produk tampak memiliki kualitas protein yang lebih baik daripada kondisi sebenarnya," kata Budi, dikutip dari laman BRIN.

Teknologi yang dikembangkan memadukan teknik elektrokimia dengan pendekatan kemometrik atau analisis statistik berbasis data. Melalui metode ini, sampel susu diukur menggunakan sinyal elektrokimia yang dihasilkan dari kandungan asam amino di dalamnya.

Setiap sampel menghasilkan pola sinyal yang berbeda. Ketika susu telah dicampur melamin atau urea, pola tersebut berubah. Namun perbedaan itu tidak dapat dikenali secara kasat mata sehingga diperlukan analisis lanjutan untuk mengidentifikasi tingkat pemalsuan.

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan sejumlah metode statistik seperti Principal Component Analysis (PCA), Partial Least Squares Regression (PLSR), dan Hierarchical Cluster Analysis (HCA).

Ketiga metode tersebut digunakan untuk memetakan perbedaan antara susu murni dan susu yang telah tercemar, sekaligus memprediksi kadar bahan pencemar dengan tingkat akurasi tinggi.

Salah satu keunggulan teknologi ini adalah potensinya untuk digunakan langsung di lapangan. Pengukuran dilakukan menggunakan potentiostat portabel yang terhubung dengan elektroda portabel sehingga tidak membutuhkan laboratorium dengan peralatan kompleks.

Kemampuan melakukan pemeriksaan di lokasi dinilai penting karena dapat mempercepat proses skrining kualitas susu sebelum produk masuk ke rantai distribusi. Teknologi tersebut berpeluang diterapkan di sentra pengumpulan susu maupun koperasi peternak untuk mendeteksi indikasi pemalsuan sejak tahap awal.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...