Minggu, 01 Desember 2024 15:35 WIB
Pangannews.id – Jakarta menyimpan beragam warisan budaya, salah satunya dalam bentuk makanan khas Betawi. Makanan-makanan tersebut tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan kota, tetapi juga melambangkan kekayaan kuliner yang memikat.
Kini, beberapa dari makanan ini mulai langka dan sulit ditemukan di pasaran. Berikut adalah 15 makanan khas Betawi yang semakin sulit dijumpai, namun tetap menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Jakarta.
Aer manis adalah minuman khas Betawi yang biasanya disajikan sebagai suguhan untuk tamu. Terbuat dari air yang dicampur dengan serai, daun jeruk, serta tambahan gula batu, tangkue, sukade, dan pacar cina, minuman ini memiliki rasa yang segar, meskipun tidak terlalu manis.
Jali-jali, sejenis serealia pengganti beras, dimasak dengan santan dan gula aren untuk menghasilkan bubur yang nikmat. Sayangnya, jali-jali kini semakin sulit ditemukan dan sulit dijadikan menu sehari-hari.
Makanan serapan Belanda yang dimodifikasi dengan bahan lokal ini, terbuat dari tape yang dimasak bersama gula pasir dan rempah-rempah. Tape, yang menjadi bahan utama, kini semakin langka digunakan untuk membuat stup tape Betawi.
Bubur ase adalah sajian dengan kuah ase yang mirip semur, namun lebih ringan dan tidak terlalu pekat kecap. Hidangan ini sering disajikan bersama kerupuk merah sebagai pendamping.
Es selendang mayang, yang terbuat dari tepung sagu aren dengan berbagai warna, disiram dengan kuah santan dan sirup manis, merupakan hidangan menyegarkan yang populer di kalangan orang Betawi. Namun, pedagangnya kini semakin jarang ditemui di jalanan Jakarta.
Sayur besan, yang biasa disajikan dalam acara pernikahan adat Betawi, terbuat dari terubuk (tebu) dan memiliki warna kuning yang melambangkan kemuliaan. Makanan ini kini semakin sulit ditemukan di pasar tradisional.
Kue geplak terbuat dari tepung beras dan kelapa. Proses pembuatannya yang unik, yakni dipukul saat masih panas, menjadikan kue ini cukup langka, meskipun dulu sering ditemukan sebagai hantaran dalam pernikahan Betawi.
Gabus pucung, kuliner dengan bahan utama ikan gabus dan bumbu keluak, memiliki cita rasa yang kaya rempah. Tampak serupa dengan rawon, namun dengan tekstur yang lebih kental. Hidangan ini kini semakin sulit ditemukan di restoran Betawi.
Sayur babanci, yang berasal dari pengaruh Tionghoa, menggunakan rempah-rempah yang cukup langka dan sering diolah dengan daging. Dengan lebih dari 20 jenis rempah, sayur ini sulit dijumpai karena bahan-bahannya yang tidak mudah didapat.
Kue sengkulun terbuat dari tepung ketan dan gula merah. Rasanya yang kenyal dan lembut serta tampilannya yang berbintil kasar membuatnya berbeda dari kue keranjang. Sayangnya, kue ini semakin sulit ditemukan.
Laksa Betawi, dengan kuah santan kuning yang kaya bumbu, berisi ketupat, ayam suwir, telur rebus, dan tahu. Dibandingkan dengan variasi laksa lainnya, laksa Betawi kini jarang dijual di warung-warung makan khas Betawi.
Kue dongkal memiliki bentuk segitiga besar dengan isian gula aren dan taburan kelapa parut. Dulu, kue ini banyak dijual di pasar-pasar tradisional, namun kini semakin langka.
Kue sagon adalah camilan khas Betawi yang terbuat dari tepung beras dan kelapa, sering disajikan saat perayaan hari raya. Rasanya yang gurih dan manis, menjadikannya favorit anak-anak Betawi, meski kini sudah jarang ditemukan.
Mirip dengan wajik Jawa, wajik Betawi terbuat dari ketan dan gula aren. Namun, warna wajik Betawi lebih gelap karena penggunaan gula aren yang kental, membuatnya sedikit lebih sulit ditemukan dibandingkan wajik dari daerah lain.
Roti buaya adalah roti khas Betawi yang menjadi simbol dalam pernikahan adat Betawi. Roti ini biasanya berbentuk buaya, yang dianggap melambangkan keberlangsungan hidup dalam pernikahan. Sayangnya, roti ini kini hanya sering dijumpai dalam acara pernikahan Betawi dan tidak banyak lagi ditemukan di pasar atau toko roti.
Makanan-makanan khas Betawi ini, meski kaya akan sejarah dan cita rasa, kini mulai langka. Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti perubahan zaman, hilangnya generasi yang mewarisi resep-resep tradisional, serta berkurangnya bahan-bahan yang sulit didapatkan. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan kuliner ini agar tetap menjadi bagian dari identitas Jakarta.
Editor : Adi Permana
Senin, 11 Mei 2026 20:36 WIB
Senin, 11 Mei 2026 20:19 WIB
Jumat, 08 Mei 2026 10:51 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...