Kemarau Basah Bikin Petani Gagal Tanam, Pakar Ungkap Dampak Positif dan Negatif

Pers Pangannews

Selasa, 15 Juli 2025 14:43 WIB

news
“Ilustrasi” Kemarau basah landa pertanian Indonesia. (Foto: iStockphoto)

Pangannews.id - Fenomena kemarau basah yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sejak Mei hingga Juli 2025 menjadi sorotan akademisi.

Meski pada awal 2024 Indonesia mencatat surplus beras dan dipuji sebagai kebangkitan sektor pertanian, kini para petani menghadapi tantangan besar akibat perubahan cuaca yang tidak sesuai prediksi.

Bayu Dwi Apri Nugroho, pakar agrometeorologi dari UGM, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap situasi iklim saat ini.

Ia menyebutkan bahwa kemarau basah ini berpotensi berlangsung hingga Oktober 2024, merujuk pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa kemarau basah diprediksi akan terjadi selama 3 bulan ke depan, yaitu sampai Oktober 2024," ujarnya, dikutip Selasa, 15 Juli 2025.

Bayu menjelaskan bahwa kondisi curah hujan yang tinggi di bulan-bulan yang biasanya kering membuat banyak petani mengalami gagal tanam.

Mereka mengira Mei dan Juni akan memasuki musim kemarau, namun justru lahan mereka tergenang banjir, menghambat proses tanam hingga panen.

"Meningkatnya intensitas hujan menyebabkan banjir di lahan, sehingga akan menyebabkan kegagalan saat tanam yang pada akhirnya petani tidak bisa melakukan penanaman atau pemanenan (puso)," jelasnya.

Namun, ia juga menyebut bahwa kemarau basah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Di beberapa wilayah yang biasanya kering dan mengandalkan hujan, curah hujan tinggi justru menguntungkan.

"Meski berdampak negatif, kemarau basah ini juga bisa berdampak secara positif untuk pertanian, yaitu peningkatan intensitas curah hujan ini akan menguntungkan untuk wilayah-wilayah yang kering dan tadah hujan, seperti di wilayah Papua dan Indonesia bagian timur lainnya," tambahnya.

Untuk menghadapi kondisi ini, Bayu menyarankan perlunya strategi nasional dalam menghadapi anomali cuaca seperti La Niña.

Ia menekankan pentingnya prediksi cuaca hingga level desa agar informasi tersebut bisa dimanfaatkan petani secara langsung.

"Prediksi awal terjadinya La Niña ini bermanfaat dalam membantu perencanaan dan pengelolaan berbagai sektor seperti sumber daya air, energi, transportasi, pertanian, kehutanan, perikanan serta menghindari atau mengurangi potensi kerugian yang lebih besar," ungkapnya.

Ia juga menekankan perlunya edukasi berkelanjutan tentang fenomena cuaca kepada petani, serta dorongan bagi pemerintah untuk menyediakan asuransi pertanian.

Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana pertanian seperti pompa air, irigasi, dan benih tahan genangan harus segera dipastikan.

"Yang tak kalah penting bisa memastikan kesiapan sarana dan prasarana untuk menghadapi La Niña, seperti ketersediaan pompa untuk pompanisasi in-out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier/kwarter, menggunakan benih tahan genangan seperti Inpara 1-10, Inpari 29, Inpari 30, Ciherang, dan lainnya," pungkasnya.

Editor: Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...