Subang Jadi Awal Produksi Benih Padi Unggul Berbasis Teknologi Nuklir

Pers Pangannews

20 jam yang lalu

news
Subang jadi awal produksi benih padi unggul berbasis teknologi nuklir. (Foto : BRIN)

Pangannews.id - Lahan sawah di Subang, Jawa Barat, menjadi lokasi panen perdana benih penjenis padi hasil pemuliaan mutasi iradiasi yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tahap ini menjadi pintu awal sebelum benih diperbanyak dan disalurkan ke petani dalam skala lebih luas.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan teknologi nuklir yang digunakan dalam pengembangan varietas ini telah masuk tahap implementasi, bukan lagi sekadar riset di laboratorium.

“Apa yang kita panen hari ini adalah instrumen kunci untuk mewujudkan target swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto. Dengan varietas unggul hasil iradiasi, kita bisa meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektare secara signifikan,” ujar Arif dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).

Metode yang digunakan adalah pemuliaan mutasi melalui iradiasi sinar gamma. Teknik ini memicu perubahan pada struktur DNA tanaman, kemudian diseleksi untuk mendapatkan sifat unggul tanpa memasukkan gen dari organisme lain.

Menurut Arif, pendekatan tersebut memungkinkan perbaikan karakter tanaman, mulai dari batang yang lebih kokoh hingga masa panen yang lebih singkat.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, menjelaskan kegiatan di Subang difokuskan pada produksi benih penjenis dengan tingkat kemurnian genetik tinggi.

“Benih penjenis adalah benih murni di bawah pengawasan pemulia langsung. Dari benih inti ini akan dihasilkan benih yang secara berjenjang mampu memenuhi kebutuhan ribuan hektare sawah petani di masa depan,” katanya.

Selama proses produksi, tim peneliti melakukan pemantauan ketat, termasuk tahapan roguing atau pembersihan tanaman menyimpang guna menjaga kualitas benih sebelum masuk tahap perbanyakan.

Sejumlah varietas yang dipanen memiliki karakter berbeda. Varietas Sidenuk dikenal berumur genjah sekitar 103 hari dengan potensi hasil hingga 9,1 ton per hektare.

Varietas Tropiko memiliki potensi hasil lebih tinggi, mencapai 10,53 ton per hektare serta tahan terhadap hama wereng coklat. Sementara varietas Bestari unggul dalam jumlah anakan produktif dan toleran terhadap penyakit hawar daun bakteri.

BRIN juga menggandeng sektor swasta untuk mempercepat distribusi benih melalui skema lisensi perlindungan varietas tanaman. Langkah ini diharapkan mempercepat pemanfaatan hasil riset di tingkat petani.

“Kami mengapresiasi dukungan mitra industri. Melalui ekosistem perbenihan yang sehat, benih unggul ini akan segera sampai di tangan petani,” ujar Mulyadi.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...