Senin, 04 Agustus 2025 12:01 WIB
Pangannews.id - Produksi gula aren nasional mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2024, di tengah meningkatnya permintaan sektor kuliner dan minuman. Namun di balik kenaikan angka produksi, sejumlah persoalan mendasar di sektor hulu masih menjadi penghambat utama keberlanjutan industri ini.
Gula aren kini bukan lagi sekadar pelengkap kudapan tradisional. Ia telah masuk ke dalam arus utama konsumsi, dari kopi susu kekinian di kota hingga jajanan pasar di desa. Namun di saat permintaan tumbuh, produksi bahan bakunya justru merosot tajam.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa tiga provinsi menjadi tulang punggung produksi nasional: Jawa Timur (60.138 ton), Jawa Tengah (51.095 ton), dan Sumatera Utara (23.160 ton).
Ketiganya menyumbang 86% dari total output gula aren nasional. Wilayah lain seperti Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat juga mulai menyusul, namun dalam skala yang jauh lebih kecil.
Meskipun produksi akhir gula aren meningkat, situasi di hulu justru mengkhawatirkan. Produksi nira aren, bahan baku utama, merosot drastis dari 17,3 ton pada 2022 menjadi hanya 1,1 ton di 2023.
Produksi tepung aren pun stagnan. Artinya, ekosistem produksi di tingkat petani belum pulih sepenuhnya, bahkan bisa dikatakan melemah.
Salah satu masalah struktural adalah regenerasi petani. Usia produktif pohon aren bisa mencapai 30 tahun, namun semakin sedikit anak muda yang tertarik menekuni kebun aren karena rendahnya insentif ekonomi.
Selain itu, ketimpangan wilayah juga menjadi isu penting. Dengan konsentrasi produksi di segelintir provinsi, ketahanan pasokan menjadi rentan terhadap gangguan cuaca atau perubahan sosial-ekonomi di daerah sentral tersebut.
Pemerintah telah menetapkan gula aren sebagai bagian dari komoditas hutan bukan kayu (HHBK) yang diprioritaskan dalam program kehutanan sosial. Namun realisasinya di lapangan masih lemah.
Minimnya harmonisasi lintas sektor dan belum adanya skema insentif fiskal untuk petani maupun pelaku usaha memperlambat industrialisasi produk aren.
Padahal secara ekologis, pohon aren punya keunggulan, yakni bisa tumbuh di lahan marginal, tidak memerlukan pupuk mahal, dan memiliki umur panjang. Namun potensi ini tak akan berarti tanpa penguatan sistem hulu-hilir, termasuk akses pasar dan dukungan teknologi produksi.
Editor : Adi Permana
Jumat, 29 Mei 2026 10:37 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 13:21 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:03 WIB
Sabtu, 23 Mei 2026 13:05 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...