Pangannews.id - Pemerintah resmi memulai proses translokasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dari habitat alaminya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) untuk membentuk populasi kedua dan mencegah kepunahan satwa langka tersebut.
Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa translokasi menjadi langkah strategis untuk menambah dan menstabilkan populasi satwa yang masuk kategori sangat kritis terancam punah (critically endangered).
"Ini adalah bagian dari target jangka menengah nasional untuk meningkatkan populasi satwa dilindungi, terutama yang sudah sangat kritis. Langkah awal adalah menstabilkan populasi terlebih dahulu, lalu kita lakukan monitoring berkala," ujar Satyawan.
Saat ini, badak jawa hanya tersisa di dunia sebanyak sekitar 80 ekor, seluruhnya berada di Semenanjung Ujung Kulon.
Berdasarkan kajian ilmiah, keberadaan populasi tunggal itu menghadapi risiko tinggi, mulai dari keterbatasan daya dukung habitat, rendahnya keragaman genetik, hingga ancaman inbreeding yang mencapai 58,5 persen.
Studi Population Viability Analysis (PVA) bahkan memperkirakan spesies ini bisa punah dalam waktu kurang dari 50 tahun jika tidak ada intervensi nyata.
Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk memindahkan dua individu badak jawa yang memiliki haplotipe genetik berbeda.
Proses pemindahan dilakukan secara hati-hati, mengingat sifat badak jawa yang pemalu, mudah stres, dan sensitif terhadap kehadiran manusia.
Sepasang badak yang terpilih akan digiring menuju Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di Desa Ujungjaya, Kabupaten Pandeglang.
Meskipun masih berada dalam kawasan TNUK, lokasi tersebut terpisah sekitar 14 kilometer dari habitat asal dan harus melintasi laut.
Kemenhut bekerja sama dengan TNI dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dalam operasi ini. Meski ditargetkan selesai tahun ini, Satyawan menegaskan prosesnya tidak bisa dipaksakan.
"Target kita tahun ini bisa dilakukan, tapi tentu sangat tergantung pada kesiapan kondisi di lapangan dan kesiapan badaknya sendiri. Ini satwa yang sangat sensitif," tegasnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.