Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Jelang Tutup Tahun, Produksi Budi Daya Perikanan Tembus 5 Juta Ton

Bagikan
Jelang tutup tahun, produksi budi daya perikanan tembus 5 juta ton. (Foto: Ilustrasi/Unair)
Jelang tutup tahun, produksi budi daya perikanan tembus 5 juta ton. (Foto: Ilustrasi/Unair)

Pangannews.id - Sektor perikanan budi daya nasional kian menunjukkan peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi desa. Hingga triwulan III 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi budi daya mencapai 5,02 juta ton atau mendekati target tahunan 5,17 juta ton.

Capaian tersebut mendorong KKP mengintegrasikan pengembangan perikanan budi daya dengan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kopkel) Merah Putih. Skema ini diharapkan memperkuat rantai usaha di tingkat lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan pembudidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb. Haeru Rahayu, mengatakan realisasi produksi masih berpeluang bertambah karena kinerja triwulan IV belum sepenuhnya dihitung. Menurutnya, periode akhir tahun menjadi fase penting bagi panen di sejumlah sentra budi daya.

“Triwulan keempat masih berjalan. Oktober sampai Desember ini masih ada produksi, jadi kita optimistis target tahun ini bisa tercapai,” ujar Haeru di Jakarta, Senin (15/12/2025).

Selain ikan budi daya, subsektor rumput laut tetap menjadi tulang punggung produksi nasional. Hingga September 2025, produksi rumput laut tercatat sebesar 8,2 juta ton atau hampir 95 persen dari target 8,63 juta ton.

Dari sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), perikanan budi daya mencatat kinerja signifikan. Realisasi PNBP mencapai 391,55 persen dari target, yang sebagian besar bersumber dari aktivitas unit pelaksana teknis (UPT) KKP.

Pengembangan perikanan budi daya dijalankan dengan pendekatan ekonomi biru atau blue economy. Haeru menegaskan kebijakan ini menempatkan aspek keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama pengelolaan usaha.

Dalam praktiknya, KKP memfokuskan pengembangan pada lima komoditas utama, yakni udang, rumput laut, nila, kepiting, dan lobster. Komoditas tersebut dinilai memiliki permintaan pasar kuat dan dukungan teknologi yang relatif siap.

Udang menjadi salah satu prioritas utama karena nilai ekonominya yang tinggi. Nilai ekspor udang Indonesia saat ini tercatat berkisar 1,1 miliar hingga lebih dari 2 miliar dolar AS per tahun.

Untuk mempercepat peningkatan produksi, KKP menerapkan tiga strategi, yakni pengembangan kawasan percontohan budi daya, revitalisasi tambak, serta penguatan kampung perikanan budi daya berbasis masyarakat dan koperasi.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah budi daya nila salin di Karawang, Jawa Barat. Dari potensi lahan sekitar 400 hektare, pengembangan telah mencapai 315 hektare dan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2025.

Selain Karawang, KKP juga mengembangkan kawasan budi daya udang terintegrasi di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seluas sekitar 2.000 hektare dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp7 triliun.

“Kalau ini berjalan optimal, produksinya bisa mencapai 75.000 ton dan menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal