Kamis, 19 Februari 2026 16:22 WIB
Pangannews.id - Penderita diabetes melitus tetap dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan secara aman asalkan mempersiapkan diri dengan baik dan berada dalam pengawasan tenaga medis.
Disiplin mengatur pola makan, obat, serta memantau gula darah menjadi kunci utama untuk mencegah risiko kesehatan selama berpuasa.
Dokter spesialis penyakit dalam, Pugud Samodro, mengatakan evaluasi kondisi kesehatan sebelum Ramadan perlu dilakukan oleh setiap pasien diabetes. Menurutnya, penyesuaian jadwal dan dosis obat juga harus dibicarakan lebih awal dengan dokter.
“Yang paling penting adalah memastikan kondisi gula darah terkontrol, menyesuaikan terapi, dan tetap memantau kadar gula selama puasa,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman itu, dikutip dari Antara.
Pugud menjelaskan, perubahan waktu makan dan konsumsi obat selama Ramadan dapat memengaruhi kestabilan gula darah. Diabetes sendiri merupakan penyakit kronis akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin, sehingga memerlukan pengelolaan jangka panjang.
“Pengelolaan diabetes mencakup pengaturan makan, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, serta kepatuhan minum obat atau insulin,” katanya.
Saat berpuasa, tubuh akan menggunakan cadangan glukosa terlebih dahulu sebelum beralih membakar lemak sebagai sumber energi. Pada orang sehat, proses ini umumnya berlangsung stabil. Namun, pada penderita diabetes, kondisi tersebut dapat memicu fluktuasi gula darah jika tidak terkontrol.
Ia menyebutkan, secara umum pasien diabetes boleh berpuasa jika kadar gula darah stabil, jarang mengalami hipoglikemia, tidak memiliki komplikasi berat, serta patuh menjalani pengobatan.
Sebaliknya, puasa tidak dianjurkan bagi pasien dengan gula darah sangat tidak stabil, sering mengalami hipoglikemia berat, penyakit ginjal stadium lanjut, penyakit jantung berat, stroke baru, atau diabetes pada kehamilan.
Pugud menganjurkan pasien berkonsultasi satu hingga dua bulan sebelum Ramadan untuk evaluasi kesehatan dan penyesuaian terapi. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko selama berpuasa.
Dari sisi pola makan, ia menekankan pentingnya tidak melewatkan sahur. Menu sahur dianjurkan mengandung karbohidrat kompleks, protein, sayuran, serta lemak sehat secukupnya, sekaligus membatasi makanan manis dan gorengan.
Saat berbuka, pasien disarankan memulai dengan air putih dan kurma secukupnya, lalu makan secara bertahap. Konsumsi sayur dan protein perlu diperbanyak, sementara minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi.
“Kebutuhan cairan juga harus terpenuhi, minimal delapan gelas air dari berbuka hingga sahur, dan hindari kopi atau teh berlebihan,” ujarnya.
Terkait pengobatan, Pugud menegaskan obat diabetes tetap harus diminum sesuai anjuran dokter dengan penyesuaian waktu. Ia juga mengingatkan bahwa pemeriksaan gula darah mandiri tidak membatalkan puasa.
Untuk aktivitas fisik, olahraga ringan seperti berjalan santai setelah berbuka atau salat tarawih dianjurkan. Sementara itu, olahraga berat di siang hari sebaiknya dihindari.
Ia mengingatkan pasien agar segera membatalkan puasa jika muncul tanda bahaya, seperti lemas berat, pusing hebat, gemetar, atau keringat dingin. Puasa juga perlu dihentikan jika hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL.
“Jika dijalankan dengan benar, puasa justru bisa memberi manfaat, seperti membantu mengontrol berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, dan memperbaiki metabolisme. Dukungan keluarga juga sangat penting untuk menjaga kepatuhan perawatan,” kata Pugud.
Editor : Adi Permana
Senin, 15 Juni 2026 12:16 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 13:22 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 12:17 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...