Jumat, 20 Februari 2026 15:35 WIB
Pangannews.id - Konsumsi garam berlebihan masih menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko hipertensi. Meski mampu memperkuat rasa makanan, kandungan natrium yang tinggi dalam garam dinilai dapat membebani kerja jantung dan pembuluh darah.
Ahli gizi Whitney Stuart mengatakan, natrium dalam garam menyebabkan tubuh menahan cairan. Kondisi ini meningkatkan volume darah dan memberi tekanan lebih besar pada dinding pembuluh darah.
“Akibatnya, tekanan darah bisa naik jika asupan garam tidak dikendalikan,” ujarnya, seperti dikutip dari Eating Well.
Menurut Stuart, berbagai jenis garam yang umum digunakan, seperti garam meja beryodium, garam laut, hingga garam Himalaya, tetap mengandung natrium dalam jumlah tinggi.
Sebagai alternatif, sejumlah ahli gizi merekomendasikan penggunaan garam kalium atau kalium klorida. Jenis garam ini menggantikan sebagian natrium dengan kalium, tanpa menghilangkan rasa asin secara signifikan.
Penelitian menunjukkan, penggantian garam natrium klorida dengan garam kalium dapat menurunkan tekanan darah hingga rata-rata 5,6/2,9 mmHg.
Ahli gizi Amy Brownstein menjelaskan, natrium dan kalium memiliki peran yang saling menyeimbangkan dalam tubuh.
“Natrium cenderung menahan cairan dan menaikkan tekanan darah, sementara kalium membantu melebarkan pembuluh darah dan membuang kelebihan natrium,” katanya.
Garam kalium dapat digunakan untuk membumbui daging, sayuran, maupun taburan makanan. Namun, para ahli menyarankan penggunaannya tetap dibatasi dan tidak sepenuhnya menggantikan garam biasa.
“Idealnya hanya mengganti sebagian, bukan seratus persen,” kata Stuart.
Di pasaran, garam kalium umumnya dijual dengan label garam rendah natrium, garam ringan, atau garam kalium. Produk dengan kandungan pengganti natrium di atas 50 persen kerap menimbulkan rasa pahit dan kurang cocok untuk pembuatan kue.
Meski dinilai lebih ramah bagi tekanan darah, garam kalium tidak disarankan untuk semua orang. Penderita gangguan ginjal serta pasien yang mengonsumsi obat tertentu, seperti penghambat ACE, ARB, atau diuretik hemat kalium, perlu berhati-hati.
Para ahli menyarankan masyarakat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum beralih ke garam jenis ini, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Selain mengganti jenis garam, ahli gizi juga menekankan pentingnya membatasi asupan natrium secara keseluruhan dan memanfaatkan rempah-rempah sebagai alternatif penyedap rasa yang lebih sehat.
Editor : Adi Permana
Senin, 15 Juni 2026 12:16 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 13:22 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 12:17 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...