Inovasi Kapal Layar Hybrid Diklaim Mampu Jangkau Laut Dalam dan Hemat Operasional

Pers Pangannews

Senin, 23 Februari 2026 11:54 WIB

news
Inovasi kapal layar hybrid diklaim mampu jangkau laut dalam dan hemat operasional. (Foto : BRIN)

Pangannews.id - Ketergantungan nelayan tradisional pada bahan bakar minyak masih tinggi. Sekitar 80 persen armada tangkap skala kecil di Indonesia menggunakan BBM sebagai sumber energi utama, yang berdampak langsung pada membengkaknya ongkos melaut.

Kepala Pusat Teknologi Proses Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hens Saputra, mengatakan transformasi teknologi kapal menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi sektor perikanan tangkap.

“Kalau kita ingin biaya operasional turun dan mutu hasil tangkapan meningkat, maka kapalnya harus berteknologi lebih maju, memanfaatkan energi terbarukan dan sistem monitoring digital,” ujarnya dalam webinar yang digelar Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN.

Menurut Hens, pengembangan tersebut tak bisa berjalan sendiri. Ia mendorong kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, peneliti, pelaku usaha, media, dan komunitas nelayan.

“Kolaborasi menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” katanya.

Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah kapal layar hybrid penangkap rajungan. Perekayasa BRIN, Nanang Setiyobudi, menjelaskan kapal ini memadukan tenaga angin dan listrik sehingga konsumsi BBM dapat ditekan hingga 76 persen per perjalanan. Kapal dirancang mampu beroperasi sampai 10 hari dengan kapasitas muatan mencapai dua ton.

Nanang mengungkapkan, nelayan kecil selama ini rata-rata hanya mampu melaut sejauh 12 mil laut. Padahal, rajungan berukuran di atas 13 sentimeter umumnya berada di perairan lebih dalam.

“Biaya bahan bakar bahkan bisa menyerap sekitar 70 persen dari total pengeluaran operasional. Ini yang ingin kami tekan melalui desain kapal hybrid,” ujarnya.

Dukungan datang dari Ketua Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI), Kuncoro Catur Nugroho. Ia berharap inovasi tersebut segera dapat dimanfaatkan di sentra produksi rajungan nasional, terutama di Pulau Jawa.

“Kami membutuhkan kapal yang cepat, hemat energi, dan memiliki sistem penyimpanan modern agar kualitas rajungan tetap terjaga,” katanya.

Selain kapal hybrid, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya pada kapal tangkap serta kapal ancak berbahan fiberglass untuk meningkatkan efisiensi panen rumput laut.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...