Selasa, 24 Februari 2026 14:49 WIB
Pangannews.id - Upaya meningkatkan nilai tambah kakao nasional terus dilakukan melalui jalur riset dan inovasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan berbagai produk olahan cokelat, dimulai dari penguatan kualitas biji melalui fermentasi hingga penciptaan produk pangan fungsional siap konsumsi.
Periset Kelompok Riset Pengembangan Produk Kakao pada Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Ulyatu Fitrotin, menuturkan bahwa fermentasi menjadi tahapan krusial dalam menentukan mutu akhir cokelat. Proses tersebut memengaruhi pembentukan rasa, aroma, serta karakter biji kakao sebelum diolah lebih lanjut.
“Fermentasi sangat menentukan kualitas sensori cokelat. Jika tahap ini optimal, profil rasa dan aromanya akan terbentuk dengan baik,” ujar Ulyatu, dikutip dari laman resmi BRIN.
Selain aspek cita rasa, kakao juga memiliki kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Di antaranya flavonoid, tanin, alkaloid seperti teobromin dan kafein, asam amino, serta mineral penting seperti magnesium, besi, kalium, fosfor, kalsium, dan seng. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan dalam berbagai inovasi produk berbasis riset.
Menjawab tren pasar yang kian mengarah pada pangan sehat, BRIN mengembangkan minuman cokelat vegan dengan pemanis alternatif berbasis sorgum berindeks glikemik lebih rendah.
Produk yang telah dipatenkan itu diharapkan menjadi pilihan bagi konsumen yang membutuhkan asupan gula lebih terkontrol sekaligus mendorong pemanfaatan bahan baku lokal.
Inovasi lainnya adalah cokelat probiotik dengan penambahan Lactobacillus plantarum Dad 13 yang telah memperoleh perlindungan kekayaan intelektual. Formula ini dikembangkan untuk menghadirkan manfaat tambahan bagi kesehatan pencernaan tanpa mengurangi karakteristik rasa cokelat.
BRIN juga merancang aneka snack bar berbahan bungkil cokelat, termasuk varian yang diperkaya probiotik dan isomalt. Pengembangan diperluas dengan kombinasi bahan lokal seperti pop sorgum, keripik pisang, dan tepung kacang hijau guna memperkaya tekstur dan kandungan nutrisi.
Tak hanya itu, diversifikasi dilakukan melalui pembuatan cokelat batangan dengan kadar kakao 32 persen untuk kategori milk chocolate hingga 80 persen untuk dark chocolate. Produk turunan lain yang dikembangkan meliputi minuman cokelat instan 3 in 1, dodol cokelat, keripik pisang bersalut cokelat, serta berbagai camilan berbasis kakao.
Pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir ini menjadi strategi BRIN dalam memperkuat rantai nilai kakao nasional. Melalui inovasi berbasis riset, lembaga tersebut berharap produk kakao Indonesia tidak hanya unggul sebagai bahan mentah, tetapi juga kompetitif di pasar produk olahan bernilai tinggi.
“Inovasi cokelat ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing kakao Indonesia sekaligus memberi manfaat lebih luas bagi industri dan masyarakat,” pungkas Ulyatu.
Editor : Adi Permana
Senin, 23 Februari 2026 11:54 WIB
Selasa, 17 Februari 2026 13:06 WIB
Minggu, 15 Februari 2026 19:23 WIB
Sabtu, 14 Februari 2026 05:48 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...