Selasa, 24 Februari 2026 14:01 WIB
Pangannews.id - Obat demam, pilek, dan pilek disertai batuk kerap dianggap sama oleh masyarakat. Padahal, kandungan dan peruntukannya berbeda. Kemasan yang mirip serta nama produk yang hampir serupa sering membuat orang keliru memilih obat.
Apoteker Ahli di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, Apt. Dyah Putri Ambarwati., S.Si, menjelaskan bahwa setiap obat dirancang untuk mengatasi gejala tertentu. Karena itu, penggunaannya harus disesuaikan dengan keluhan yang muncul, bukan sekadar mengikuti merek yang populer.
“Prinsipnya sederhana, obat diberikan sesuai gejala. Jangan karena kemasannya mirip lalu dianggap fungsinya sama,” ujar Dyah yang juga dikenal sebagai pengajar dan pendiri Rumah Singgah Pejuang Hati itu.
Obat demam, misalnya, umumnya mengandung paracetamol yang berfungsi menurunkan suhu tubuh sekaligus meredakan nyeri. Obat ini dianjurkan diminum ketika suhu tubuh di atas 37,5 derajat Celsius atau muncul keluhan seperti sakit kepala dan pegal. Jika tidak ada demam atau nyeri, konsumsi paracetamol tidak diperlukan.
Sementara itu, obat pilek biasanya berisi kombinasi zat seperti pseudoephedrine untuk melegakan hidung tersumbat serta chlorpheniramine yang membantu mengurangi bersin dan reaksi alergi. Jenis ini digunakan ketika gejala didominasi hidung mampet, meler, atau bersin. Tidak semua obat pilek mengandung penurun panas.
Adapun obat kombinasi pilek dan batuk ditujukan bagi pasien dengan dua keluhan sekaligus. Selain kandungan antihistamin atau dekongestan untuk pilek, terdapat pula zat penekan atau pengencer dahak seperti dextromethorphan atau guaifenesin untuk meredakan batuk.
Wanita yang tengah menempuh pendidikan Magister Bisnis Farmasi di Universitas Pancasila itu juga mengingatkan, penggunaan obat kombinasi tanpa gejala yang sesuai justru berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak perlu, seperti kantuk berlebihan atau jantung berdebar.
Karena itu, masyarakat diminta tidak sembarangan mengonsumsi obat batuk jika tidak mengalami batuk, atau membeli obat flu lengkap bila hanya mengalami demam ringan.
Menurut dia, edukasi mengenai pemilihan obat penting untuk mencegah penggunaan yang tidak rasional. Jika ragu menentukan jenis obat yang tepat, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan apoteker sebelum membeli.
“Dengan memahami perbedaan kandungan dan fungsi obat, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menangani keluhan demam maupun flu, serta terhindar dari risiko efek samping akibat salah memilih obat,” ujarnya.
Editor : Adi Permana
Senin, 11 Mei 2026 20:36 WIB
Senin, 11 Mei 2026 20:19 WIB
Jumat, 08 Mei 2026 10:51 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...