Senin, 02 Maret 2026 21:18 WIB
Pangannews.id - Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak pada pasar energi global. Pemerintah Indonesia mewaspadai lonjakan harga minyak menyusul terganggunya jalur distribusi utama dunia di kawasan Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan situasi menjadi krusial setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur vital pengiriman minyak mentah internasional.
“Kalau Selat Hormuz terganggu, suplai minyak pasti terdampak. Ditambah lagi situasi di Laut Merah yang juga belum sepenuhnya stabil. Kita lihat seberapa lama eskalasi ini berlangsung,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai titik strategis lalu lintas energi dunia. Penutupan jalur tersebut memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan dan kenaikan harga energi di pasar internasional.
Mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah mengklaim telah menyiapkan langkah diversifikasi sumber impor. Salah satunya melalui kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan sejumlah perusahaan energi asal Amerika Serikat.
Menurut Airlangga, kesepakatan dengan perusahaan seperti Chevron dan ExxonMobil menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah juga menilai dampak konflik terhadap perekonomian domestik belum bisa dihitung secara pasti. Selain energi, sektor logistik dan pariwisata berpotensi terdampak jika ketegangan berlangsung lama.
“Semua tergantung durasi dan skala perangnya. Kalau berkepanjangan tentu efeknya lebih luas,” kata dia.
Terkait kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, Airlangga mengakui tekanan kenaikan harga energi biasanya tak terhindarkan dalam situasi konflik, seperti yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina.
Namun ia berharap tambahan produksi dari Amerika Serikat serta peningkatan kapasitas oleh negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dapat meredam lonjakan harga.
Di sisi lain, situasi keamanan di kawasan terus memburuk. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan telah menutup Selat Hormuz menyusul serangan yang ditujukan ke wilayah Iran. Militer Iran juga mengklaim menyerang sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Editor : Adi Permana
Minggu, 21 Juni 2026 15:32 WIB
Minggu, 21 Juni 2026 11:51 WIB
Minggu, 21 Juni 2026 11:41 WIB
Minggu, 21 Juni 2026 10:52 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...