4 jam yang lalu
Pangannews.id - Fenomena El Nino menjadi ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem di Indonesia. Penurunan curah hujan yang memicu kemarau panjang berdampak langsung pada terganggunya habitat satwa liar hingga meningkatnya konflik dengan manusia.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari, mengatakan perubahan iklim akibat El Nino menyebabkan kondisi lingkungan menjadi lebih kering dan suhu meningkat.
“El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan sehingga memicu kemarau panjang dan kondisi lingkungan yang lebih kering,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan satwa liar. Menurut Mustari, peningkatan suhu dan kekeringan mengakibatkan berkurangnya ketersediaan pakan dan sumber air di habitat alami.
“Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar,” kata dia.
Ia menjelaskan, menurunnya produktivitas tumbuhan pakan seperti buah, daun, hingga tumbuhan bawah membuat satwa kesulitan bertahan hidup. Dalam kondisi tersebut, satwa liar terpaksa memperluas wilayah jelajahnya untuk mencari sumber makanan.
Akibatnya, satwa mulai keluar dari kawasan hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman warga. Situasi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar,” ujarnya.
Tak hanya itu, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan yang memperparah kerusakan habitat. Kebakaran tidak hanya mengurangi populasi satwa, tetapi juga mengganggu proses reproduksi serta penyebaran biji tanaman yang penting bagi regenerasi hutan.
“Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang,” kata Mustari.
Ia menilai, gangguan terhadap ekosistem ini dapat berdampak jangka panjang terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati. Jika tidak ditangani, kerusakan yang terjadi bisa semakin meluas dan sulit dipulihkan.
Terkait meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak bertindak gegabah. Mustari menyarankan agar setiap kemunculan satwa segera dilaporkan kepada aparat setempat maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Dalam kondisi darurat, satwa dapat diusir dengan cara aman menggunakan alat sederhana tanpa melukai atau membunuhnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian habitat sebagai langkah utama pencegahan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal dinilai menjadi kunci dalam menjaga hutan dari kerusakan.
Editor : Adi Permana
Jumat, 17 April 2026 13:52 WIB
Rabu, 15 April 2026 11:22 WIB
Jumat, 10 April 2026 13:47 WIB
Jumat, 10 April 2026 10:13 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...