Rabu, 15 April 2026 11:22 WIB
Pangannews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering, datang lebih awal, dan berdurasi lebih panjang dibandingkan rata-rata kondisi dalam tiga dekade terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab mengatakan, kondisi tersebut perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi secara berlebihan apalagi menimbulkan kepanikan di masyarakat.
“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun ini bukan berarti yang paling parah,” kata Fachri dalam diskusi peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Ia menegaskan, informasi yang berkembang di ruang publik belakangan ini terkait kemarau ekstrem dengan istilah seperti “Kemarau Godzilla” atau “El Nino Godzilla” tidak tepat dan cenderung menyesatkan.
“BMKG tidak menggunakan istilah tersebut. Itu berlebihan dan tidak sepenuhnya benar,” ujarnya.
Menurut Fachri, jika melihat catatan historis, kemarau pada 1997 dan 2015 masih jauh lebih ekstrem dibandingkan proyeksi tahun ini. Meski demikian, kondisi 2026 diperkirakan tetap lebih kering dibandingkan beberapa tahun terakhir, termasuk 2023.
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang mulai aktif sejak akhir April hingga awal Mei 2026. Fenomena ini berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Namun, Fachri mengingatkan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua hal yang berbeda.
“El Nino mempengaruhi intensitasnya, tapi musim kemarau tetap terjadi setiap tahun di Indonesia,” katanya.
Saat ini, intensitas El Nino masih berada pada kategori lemah. Meski begitu, BMKG memperkirakan kekuatannya akan meningkat menjadi moderat pada triwulan III 2026, terutama pada periode Agustus hingga Oktober.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat diminta untuk mulai melakukan langkah mitigasi, khususnya dalam menjaga ketersediaan air bersih dan keberlangsungan sektor pertanian.
“Informasi ini perlu disikapi serius, tapi tidak perlu panik. Yang penting adalah kolaborasi untuk mitigasi,” kata Fachri.
Ia kembali menekankan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh istilah-istilah yang tidak ilmiah dalam memahami fenomena iklim.
“Tidak ada El Nino lain-lain, tidak ada El Nino ‘Pokemon’ atau ‘King Kong’. Itu tidak ada,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
22 jam yang lalu
Kamis, 16 April 2026 11:47 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...