12 jam yang lalu
Pangannews.id - Ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia kini datang dari bawah permukaan air. Sejumlah spesies ikan asing yang awalnya masuk melalui perdagangan ikan hias, budidaya, hingga pelepasan ke alam bebas, kini berkembang pesat dan mulai mendominasi sungai serta danau di berbagai daerah.
Dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), hasil riset dan pemetaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia.
Sebanyak 50 jenis di antaranya diduga telah masuk ke perairan umum dan sekitar 20 jenis telah dikategorikan sebagai spesies invasif dengan kemampuan penyebaran yang tinggi.
Beberapa yang paling sering ditemukan antara lain ikan sapu-sapu, ikan nila, ikan cere, kelompok ikan siklid seperti red devil, hingga predator besar seperti arapaima dan aligator gar.
Fenomena ini menjadi perhatian para peneliti karena spesies invasif tidak hanya hidup di habitat baru, tetapi juga mampu mengubah keseimbangan ekosistem dan menekan populasi ikan asli.
Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan, menjelaskan bahwa spesies asing invasif merupakan organisme nonlokal yang berhasil masuk ke suatu ekosistem baru dan berkembang secara masif hingga mengancam spesies asli.
"Spesies tersebut disebut asing karena berasal dari luar habitat aslinya dan disebut invasif karena mampu berkembang pesat, mendominasi, serta mengganggu ekosistem baru yang ditempatinya," kata Donan.
Menurutnya, tidak semua spesies asing otomatis menjadi invasif. Namun potensi tersebut tetap harus diwaspadai karena sangat bergantung pada kemampuan adaptasi spesies dan kondisi lingkungan tempat hidupnya.
"Meskipun tidak semua spesies asing berpotensi invasif, misalnya ikan koi, namun potensi tersebut tetap ada tergantung dari kemampuan adaptasi spesies dan kondisi lingkungannya. Sehingga tetap harus waspada dan dimitigasi," ujarnya.
Kajian yang diterbitkan dalam jurnal Sains Malaysiana pada 2022 menunjukkan sedikitnya 50 spesies ikan asing telah ditemukan di 72 danau dan 57 sungai yang tersebar di 28 provinsi Indonesia. Dari jumlah tersebut, 18 spesies masuk kategori invasif. Ikan siklid mendominasi kawasan danau, sedangkan ikan sapu-sapu lebih banyak ditemukan di sungai.
Masuknya ikan asing ke perairan Indonesia sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Jalur paling umum berasal dari perdagangan ikan hias dan budidaya ikan konsumsi.
"Banyak ikan dilepas ke perairan umum ketika pemilik tidak lagi mampu merawatnya atau ketika ikan budidaya terbawa banjir dari kolam pemeliharaan," kata Donan.
Selain itu, pelepasan ikan dalam kegiatan seremonial maupun program pengendalian biologis pada masa lalu juga turut menyumbang penyebaran spesies asing. Salah satu contohnya adalah introduksi ikan cere untuk mengendalikan jentik nyamuk malaria.
Dampak ekologis yang ditimbulkan tidak bisa dianggap remeh. Ikan sapu-sapu, misalnya, diketahui mampu merusak habitat ikan lokal dengan memakan tumbuhan air dan alga serta membuat lubang di dasar perairan. Sementara ikan nila dapat memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan alga akibat peningkatan kandungan nitrogen dan fosfor dari ekskresinya.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan kematian ikan lain di habitat yang sama," ujar Donan.
Ancaman juga muncul pada spesies lokal lainnya. Donan mencontohkan ikan cere yang dapat menyerang larva amfibi.
"Ikan cere akan menyerang dan menggerogoti ekor larva salamander api sehingga banyak larva yang tidak dapat tumbuh dewasa hingga mengalami kematian," katanya.
Persoalan menjadi semakin rumit karena ikan invasif dikenal sangat sulit diberantas. Dosen Fakultas Biologi UGM Akbar Reza mengatakan beberapa spesies memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, bahkan mampu bertahan di lingkungan yang tercemar.
"Secara ekologis, beberapa jenis ikan invasif seperti ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, bahkan sangat toleran pada logam berat sehingga terdistribusi luas. Terlebih tidak ada predator yang mampu mengontrol populasinya," ujar Akbar.
Sementara itu, Dosen Fakultas Biologi UGM Luthfi Nurhidayat menyoroti kemampuan reproduksi ikan invasif yang sangat cepat sehingga populasinya mudah meledak.
"Ketika ikan-ikan invasif tersebut masuk ke dalam perairan terbuka umum di Indonesia yang tidak terlalu keras kompetisinya, maka pertumbuhan populasinya menjadi tidak terkendali," kata Luthfi.
Menurut Luthfi, masih banyak masyarakat yang belum memahami dampak pelepasan ikan ke alam bebas. Padahal, kebiasaan melepas ikan peliharaan atau ikan untuk kebutuhan seremonial dapat menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.
Para peneliti mendorong pengendalian spesies invasif dilakukan secara terpadu melalui penguatan regulasi, riset, pengendalian di lapangan, dan edukasi publik. Daftar jenis asing invasif juga dinilai perlu terus diperbarui agar kebijakan pengawasan dan penindakan lebih efektif.
Editor : Adi Permana
Sabtu, 23 Mei 2026 12:09 WIB
Selasa, 05 Mei 2026 11:07 WIB
Selasa, 05 Mei 2026 10:58 WIB
Jumat, 24 April 2026 10:00 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...