Musim Kemarau Tiba, 11 Daerah di Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pangannews.id - Pemerintah Provinsi Riau bersama 11 pemerintah kabupaten dan kota menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak musim kemarau.

Dari total 12 kabupaten dan kota di Riau, hanya Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang belum menetapkan status siaga darurat karhutla.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD dan Damkar Riau, Jim Gafur mengatakan penetapan status siaga darurat diperlukan untuk mempercepat koordinasi penanganan antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat jika kebakaran meluas.

"Saat ini Pemprov Riau dan 11 pemerintah kabupaten/kota di Riau sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. Hanya tinggal satu daerah saja yang belum menetapkan yakni Kuansing," kata Jim Gafur di Pekanbaru, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, status siaga darurat akan memudahkan pemerintah daerah dalam mengakses dukungan personel, peralatan, hingga bantuan penanganan dari berbagai pihak. Karena itu, Pemprov Riau berharap Kuansing segera mengikuti langkah daerah lain.

"Jika sudah menetapkan status, koordinasi dan pengiriman bantuan akan lebih mudah, sehingga penanganan karhutla juga akan lebih cepat," ujarnya.

Penetapan status siaga dilakukan di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung di sejumlah lokasi. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera saat ini masih melakukan operasi pemadaman di Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir, Sokoi di Kabupaten Pelalawan, serta Kandis di Kabupaten Siak.

Sementara itu, kebakaran di Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, berhasil dipadamkan setelah lima hari penanganan intensif.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan kondisi cuaca dan karakteristik lahan masih menjadi tantangan utama di lapangan. Angin kencang membuat api cepat menjalar, sementara vegetasi yang mengering akibat minim hujan menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Kesulitan juga muncul karena sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Api kerap membakar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman dan pendinginan membutuhkan waktu lebih lama.

"Tim Manggala Agni terus bekerja maksimal di seluruh lokasi kebakaran. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang cukup menantang dan medan yang tidak mudah, personel tetap fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan," kata Ferdian.

Selain pemadaman, upaya patroli dan deteksi dini titik api juga terus ditingkatkan, terutama di kawasan gambut yang selama ini menjadi wilayah paling rawan terbakar saat curah hujan mulai menurun.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...