9 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri, serta konsumsi susu masyarakat.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat menghadiri peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Wamentan Sudaryono, susu merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak-anak Indonesia.
"Semua hadir untuk kita selenggarakan peringatan Hari Susu Nusantara. Intinya apalagi, susu ini kandungan proteinnya tinggi, diserap tubuh dengan baik dan salah satu sumber protein yang bagus untuk tumbuh kembang baik fisik maupun kecerdasan otak bagi generasi kita," kata Sudaryono.
Wamentan Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar ini menegaskan bahwa pembangunan sektor persusuan bukan hanya berbicara soal produksi dan ekonomi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, menjadi prioritas strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. "Hal tersebut juga menjadi momentum penting untuk membangkitkan sektor persusuan nasional seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis," Imbuhnya.
Mas Dar mengatakan, saat ini pemerintah fokus pada dua agenda utama, yakni meningkatkan produksi susu nasional dan meningkatkan konsumsi susu masyarakat, terutama anak-anak.
"Tentu saja sekarang ada MBG. Produksi susu kita memang masih ada sebagian yang impor. Nah kita ingin tingkatkan dua hal. Yang pertama adalah bagaimana meningkatkan produksi susu dengan lebih banyak sapi perahnya, lebih banyak kita datangkan. Yang kedua adalah meningkatkan konsumsi susu per kapita untuk anak-anak kita khususnya," ujarnya.
Sebagai anak petani asal Grobogan, Jawa Tengah, Sudaryono mengaku merasakan langsung manfaat konsumsi susu sejak usia muda. Pengalaman pribadinya itu membuatnya yakin bahwa gerakan minum susu harus terus diperkuat.
"Kalau saya ini orang produk susu, sampai sekarang saya minum susu. Dari kecil saya nggak pernah nggak minum susu. Mulai SMA saya minum susu sampai sekarang. Saya bahkan dalam tiga tahun naik 14 sentimeter karena minum susu dan makan bergizi," Terangnya
"Jadi kalau orang ngomong apapun negatif tentang MBG, tentang susu, saya adalah orang produk dari makan bergizi dan produk dari minum susu. Jadi pasti saya bela itu MBG dan gerakan minum susu," lanjut Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.
Wamentan Sudaryono menekankan bahwa manfaat susu memang tidak bisa dirasakan secara instan, tetapi memberikan dampak besar dalam jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
"Minum susu hari ini pinternya nggak langsung besok. Tapi pinternya itu nanti bertahap, lama-lama jadi tambah pintar, orangnya tambah kuat dan seterusnya. Jadi memang protein, protein, protein," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa gagasan memperkuat konsumsi susu sebenarnya telah lama menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Jauh sebelum menjabat Presiden maupun Menteri Pertahanan, Prabowo telah menggagas Gerakan Revolusi Putih yang mendorong pemenuhan gizi masyarakat melalui konsumsi susu.
"Bahkan dulu Pak Presiden kita Pak Prabowo sebelum menjadi Presiden, waktu masih mengelola Gerindra, kita bikin Gerakan Revolusi Putih. Jadi memang sudah lama perhatian terhadap susu dan gizi masyarakat ini," ujarnya.
Di sisi produksi, Wamentan Sudaryono mengakui bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah masih terbatasnya jumlah sapi indukan, khususnya sapi perah. Menurutnya, teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit sudah cukup memadai, namun jumlah ternak hidup masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
"Kita ini kurang sapi induknya. Kalau sperma kemudian bank spermanya kita sudah punya banyak. Baik daging maupun susu, yang kurang itu adalah sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan," jelasnya.
Karena itu pemerintah terus mendorong investasi swasta dan BUMN untuk mendatangkan sapi perah dari berbagai negara. Sejumlah komitmen investasi bahkan sudah mulai berjalan dengan skala ribuan hingga puluhan ribu ekor.
"Sudah beberapa ada komitmen, ada yang 10 ribu ekor, ada yang 5 ribu ekor. Dan saya sebagai Wakil Menteri dan Ketua Umum HKTI ingin HKTI itu nggak cuma omong-omong, tapi ingin kasih contoh. Mungkin 100, 200 atau 150 ekor, kita mulai dari diri kita sendiri," katanya.
Wamentan Sudaryono menjelaskan bahwa pengembangan sapi perah harus dilakukan di wilayah yang memiliki iklim sesuai, terutama daerah dataran tinggi dengan suhu yang relatif sejuk seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan, dan Blitar. Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki pengembangan sapi perah tropis dari Brasil yang dinilai lebih adaptif terhadap iklim Indonesia.
"Kita lagi uji coba juga, katanya ada sapi perah tropis dari Brasil. Kita juga lagi jajaki itu semua. Intinya adalah bagaimana sapinya tambah banyak, susunya diproduksi tambah banyak, dan diminum lebih banyak. Itu saja," ujarnya.
Untuk mempercepat peningkatan produksi susu nasional, pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi investor dalam dan luar negeri untuk mengembangkan usaha persusuan di Indonesia.
Berbagai kemudahan perizinan dan insentif terus diberikan guna menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem persusuan nasional yang tangguh, modern, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.
"Indonesia sudah bekerja sama dengan banyak negara, dari Australia, Brasil, New Zealand, Denmark dan negara-negara Eropa lainnya. Bentuknya investasi. Jadi negara tidak mengeluarkan APBN untuk beli sapi. Yang kita lakukan adalah memberikan kemudahan berusaha, perizinan, dan berbagai insentif supaya orang mau berinvestasi menempatkan sapi perah maupun sapi pedaging di Indonesia," kata Wamentan Sudaryono.
Menurutnya, Indonesia memiliki daya tarik investasi yang sangat kuat karena memiliki pasar yang besar dan kebutuhan susu yang terus meningkat, terutama untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.
"Ingat, ada satu kelebihan yaitu ada captive market namanya MBG. Karena itu saya optimistis sektor persusuan Indonesia akan berkembang jauh lebih cepat ke depan," pungkasnya.(*/ADV)
You must login to comment...
Be the first comment...