Kontras Dunia: Amerika Rawan Pangan, Indonesia Surplus Beras dan Harga Stabil

Pers Pangannews

9 jam yang lalu

news
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Bulog menembus 5,39 juta ton. (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Di saat Amerika Serikat menghadapi kerawanan pangan terburuk dalam enam tahun terakhir, Indonesia justru mencatat capaian bersejarah di sektor pangan. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Bulog menembus 5,39 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, sementara harga beras domestik tetap terkendali di tengah gejolak harga pangan dunia, sehingga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok tetap aman.

Kontras tersebut menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kerawanan pangan yang semakin meningkat dengan beragam alasan. Negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat, justru menghadapi peningkatan kerawanan pangan yang bahkan melampaui masa-masa tersulit pandemi Covid-19.

Survei terbaru Federal Reserve Bank of New York yang dirilis Mei 2026 menunjukkan sekitar 10 persen rumah tangga Amerika mengaku terpaksa melewatkan waktu makan karena tidak memiliki cukup makanan.

Dilansir dari website resmi organisasi tersebut https://libertystreeteconomics.newyorkfed.org, angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2020 saat pandemi Covid-19 mencapai puncaknya, ketika hanya sekitar 4 persen rumah tangga melaporkan kondisi serupa.

Data tersebut juga menunjukkan hampir 16 persen keluarga Amerika kini bergantung pada bantuan makanan atau donasi pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di kelompok berpenghasilan rendah, hampir satu dari lima keluarga mengaku harus mengurangi atau melewatkan waktu makan akibat keterbatasan ekonomi.

Kondisi ini terjadi di tengah berakhirnya berbagai program bantuan pemerintah yang sebelumnya digelontorkan secara besar-besaran selama pandemi, sementara harga pangan terus meningkat dan membebani anggaran rumah tangga masyarakat.

Direktur Golden Harvest Food Bank di Georgia, Amy Breitmann, menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, warga bahkan rela mengantre sejak malam hari untuk mendapatkan bantuan pangan.

“Kami memiliki beberapa distribusi bantuan di mana orang-orang mengantre sepanjang 3 hingga 5 kilometer sejak malam sebelum pembagian dimulai. Mereka tidur di dalam mobil mereka,” ujarnya.

Kondisi ini diperkirakan akibat harga makanan pokok yang meningkat yang mengakibatkan inflasi pangan di negara tersebut melonjak. Pemerintah Amerika Serikat juga telah menghentikan bantuan pangan yang sebelumnya pada saat pandemi digelontorkan secara masif. Pendapatan sejumlah kelompok masyarakat juga tidak bisa mengimbangi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Sementara itu, di Indonesia, kondisi justru menunjukkan arah yang berbeda. Ketika banyak negara menghadapi tekanan pangan, pemerintah berhasil menjaga pasokan nasional sekaligus meningkatkan cadangan beras ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan stok beras pemerintah yang kini mencapai 5,39 juta ton menjadi bukti kuat bahwa ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi yang sangat aman.

“Stok beras pemerintah saat ini mencapai 5,39 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Jika digabungkan dengan standing crop dan stok yang ada di masyarakat, maka kondisi pangan kita sangat aman,” ujar Amran.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari percepatan produksi nasional, peningkatan serapan gabah petani, perbaikan distribusi sarana produksi pertanian, serta sinergi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ketersediaan cadangan beras pemerintah juga memungkinkan Indonesia mampu menjaga harga beras tetap terkendali. Pemerintah memastikan harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak mengalami perubahan meskipun terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun kenaikan harga pangan internasional.

Saat ini harga beras SPHP tetap berada pada kisaran Rp12.500 hingga Rp13.500 per kilogram, tergantung wilayah distribusi.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,97 triliun untuk mendukung penyaluran beras SPHP sepanjang 2026. Kebijakan tersebut menjadi bantalan penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi pangan.

Di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi, cadangan, dan stabilitas harga pangan.

Ketika sejumlah negara masih bergulat dengan kelangkaan pangan dan lonjakan harga hingga kerawanan pangan, Indonesia justru menunjukkan fondasi ketahanan pangan yang semakin kuat melalui peningkatan produksi, cadangan beras yang melimpah, serta keterjangkauan harga bagi masyarakat.(*/ADV)


Kolom Komentar

You must login to comment...