15 jam yang lalu
Pangannews.id - Perubahan iklim, serangan hama, dan tingginya biaya produksi menjadi tantangan yang kian membayangi produksi hortikultura nasional, terutama komoditas strategis seperti bawang merah dan cabai.
Di tengah tekanan tersebut, kawasan pesisir mulai dilirik sebagai wilayah pengembangan pertanian masa depan, meski menyimpan persoalan yang tidak ringan. Wilayah pesisir dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi pangan nasional.
Namun, karakteristik lahannya yang rentan terhadap salinitas tinggi, degradasi tanah, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim membuat produktivitas pertanian di kawasan tersebut tidak mudah ditingkatkan.
Kondisi itu mendorong peneliti dan pemerintah mencari pendekatan baru yang lebih adaptif. Salah satu yang mulai mendapat perhatian adalah penggunaan true shallot seed (TSS) atau benih botani bawang merah.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arlyna Budi Pustika, mengatakan teknologi tersebut menawarkan alternatif terhadap sistem budidaya bawang merah yang selama ini mengandalkan umbi sebagai bahan tanam.
Menurut Arlyna, benih botani berpotensi mengurangi risiko penyebaran penyakit yang kerap terbawa melalui umbi, sekaligus mempermudah distribusi benih ke berbagai daerah.
"Selain mengurangi risiko penyebaran penyakit melalui bahan tanam, TSS juga mempermudah distribusi benih dan membuka peluang pengembangan sistem produksi berbasis benih botani," ujarnya, dikutip dari laman remsi BRIN.
Persoalan lain yang terus menghantui petani adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Hama seperti trips, ulat grayak, dan lalat bawang masih menjadi penyebab utama turunnya produktivitas di sejumlah sentra produksi.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rini Murtiningsih, mengatakan pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) terus dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
Pendekatan tersebut menggabungkan praktik budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pemantauan agroekosistem secara rutin, hingga peningkatan kapasitas petani dalam mengendalikan serangan hama dan penyakit.
Sejumlah teknologi pendukung juga telah diuji di lapangan. Di antaranya penggunaan feromon, nano-biopestisida, rumah tanaman berbasis jaring pelindung atau netting house, serta sistem irigasi tetes.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi netting house dan irigasi tetes mampu menekan serangan organisme pengganggu tanaman sekaligus menjaga produktivitas bawang merah pada kisaran 12 hingga 14 ton per hektare.
Tak hanya berdampak pada hasil panen, teknologi tersebut juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi usaha tani. Sistem irigasi tetes terbukti menghemat penggunaan air dan pupuk, bahkan mengurangi kebutuhan pupuk hingga sekitar 30 persen dibandingkan metode budidaya konvensional.
Di tingkat petani, manfaat ekonomi mulai terlihat. Penerapan netting house di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, misalnya, mampu menekan penggunaan pestisida antara 30 hingga 70 persen sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Muhammad Agung Sunusi menilai bawang merah dan cabai memiliki peran penting dalam sistem pangan nasional karena berpengaruh langsung terhadap pasokan pangan dan stabilitas harga.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi kedua komoditas tersebut tidak hanya berasal dari perubahan iklim dan serangan hama, tetapi juga tingginya biaya produksi, kehilangan hasil pascapanen, serta rantai distribusi yang belum efisien.
Karena itu, pengembangan varietas unggul, teknologi budidaya modern, serta penguatan kelembagaan petani dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Editor : Adi Permana
Rabu, 17 Juni 2026 16:30 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 14:13 WIB
Senin, 08 Juni 2026 10:42 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...