Petani Kopi Didorong Panen Selektif untuk Tembus Pasar Premium

Pers Pangannews

9 jam yang lalu

news
BRIN bersama Pemkab Magelang melalui kegiatan BRIN Goes to Society pada 10–11 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pendampingan UMKM Berbasis Iptek (PUMI). (Foto : dok. BRIN)

Pangannews.id - Persaingan industri kopi tak lagi ditentukan oleh banyaknya produksi. Di tengah meningkatnya permintaan kopi berkualitas dan berkembangnya pasar kopi spesialti, kualitas hasil panen serta kemampuan menciptakan produk bernilai tambah menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing.

Tantangan itu masih dihadapi banyak sentra kopi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Magelang. Mulai dari pemilihan varietas, pengelolaan kebun, serangan penyakit tanaman, hingga penanganan pascapanen yang belum seragam masih menjadi pekerjaan rumah bagi petani.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai peningkatan daya saing kopi harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, mengatakan riset tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan dan diversifikasi produk.

"Inovasi tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing usaha," kata Driszal, dikutip dari laman resmi BRIN.

Pada tingkat budidaya, peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Dani dan Handi Supriadi, menyoroti pentingnya penerapan praktik budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).

 Menurut mereka, produktivitas dan mutu kopi sangat dipengaruhi oleh pemilihan varietas yang sesuai, teknik pemangkasan, pengelolaan kebun, hingga pengendalian penyakit karat daun yang masih menjadi ancaman di sejumlah daerah penghasil kopi.

Persoalan mutu juga muncul saat panen. Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Pangan BRIN, Yeyen Prestyaning Wanita, menilai praktik "petik pelangi" atau memanen buah dengan tingkat kematangan berbeda masih menjadi kendala dalam menghasilkan kopi berkualitas tinggi.

Untuk memenuhi standar pasar kopi spesialti, petani didorong melakukan pemetikan buah merah secara selektif agar kualitas biji lebih seragam.

Di sisi lain, peluang peningkatan pendapatan petani tidak hanya berasal dari penjualan biji kopi. Peneliti BRIN lainnya, Nendyo Adhi Wibowo, melihat masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan dari komoditas tersebut, termasuk kulit buah kopi atau cascara yang selama ini lebih sering menjadi limbah.

Melalui teknologi pengolahan, cascara dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti teh cascara, kopi herbal, hingga minuman fermentasi. Nendyo juga memperkenalkan Kopi Binturong sebagai salah satu produk kopi fermentasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan Kopi Luwak.

Upaya penguatan sektor kopi berbasis inovasi mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Magelang. Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai pengembangan kopi perlu ditopang oleh riset agar produktivitas dan kesejahteraan petani dapat meningkat secara berkelanjutan.

Menurut Grengseng, hasil riset mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, namun manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat ketika berhasil diterapkan di lapangan.

Selain memberikan pendampingan kepada petani dan pelaku usaha kopi, BRIN juga menyerahkan bibit kopi unggul hasil riset kepada Pemerintah Kabupaten Magelang. Pendampingan kemudian dilanjutkan ke sentra kopi arabika dan robusta untuk membahas berbagai persoalan budidaya sekaligus mempercepat penerapan teknologi di tingkat petani.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...