11 jam yang lalu
Pangannews.id - Kabupaten Lebak, Banten, terus menunjukkan perannya sebagai salah satu penyangga pangan nasional. Produksi beras yang dihasilkan daerah ini bukan hanya mencukupi kebutuhan penduduk setempat, tetapi juga menjadi pemasok bagi wilayah padat penduduk di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Data Pemerintah Kabupaten Lebak menunjukkan produksi padi pada 2025 mencapai 725.813 ton gabah kering pungut (GKP). Setelah dikonversi, jumlah tersebut setara sekitar 380 ribu ton beras. Angka itu jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Lebak yang diperkirakan mencapai 140 ribu ton per tahun.
Dengan kondisi tersebut, Lebak memiliki surplus sekitar 240 ribu ton beras yang dapat disalurkan ke berbagai daerah dan berkontribusi terhadap pasokan pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan keberhasilan menjaga produksi tidak lepas dari pola tanam yang diterapkan petani. Sebagian besar petani di daerah itu melakukan dua kali musim tanam dalam setahun.
"Kita minta petani jika musim panen maka kembali melakukan percepatan tanam guna keberlanjutan produksi pangan," kata Rahmat, Minggu (21/6/2026), dikutip dari Antara.
Menurut dia, petani di Kabupaten Lebak mengelola lahan sawah dengan luas tambah tanam (LTT) mencapai 100 ribu hektare per tahun. Pola tanam tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga ketersediaan beras sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Peran Lebak dalam rantai pasok pangan nasional juga mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, Kabupaten Lebak bersama Kabupaten Serang masuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jabotabek.
"Kami mendorong produksi pangan di Lebak terus meningkat dan terbukti pada 2025 sebanyak 725.813 ton gabah kering pungut (GKP) dan jika dikonversikan beras mencapai 380.000 ton," ujar Rahmat.
Ia menuturkan, padi sawah masih menjadi komoditas andalan petani karena memberikan kontribusi pendapatan yang lebih stabil dibandingkan tanaman hortikultura maupun palawija. Sentra produksi terbesar berada di wilayah selatan Kabupaten Lebak, meliputi Kecamatan Malingping, Wanasalam, Banjarsari, dan Bayah.
Dari sisi ekonomi, usaha tani padi juga dinilai masih menjanjikan. Dengan investasi sekitar Rp10 juta per hektare dan produktivitas rata-rata lima ton gabah per hektare, petani berpotensi memperoleh pendapatan kotor hingga Rp32,5 juta per hektare ketika harga gabah berada di level Rp6.500 per kilogram.
"Bila harga gabah pungut itu Rp6.500/kg dengan produktivitas 5 ton, sehingga bisa menghasilkan pendapatan Rp32.500.000/hektare," kata Rahmat.
Optimisme serupa disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani Sukabungah Kabupaten Lebak, Ruhiana. Menurut dia, usaha tani padi masih memberikan keuntungan yang cukup baik, terutama setelah hasil panen dapat diserap oleh Bulog dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Ia menjelaskan biaya pengelolaan sawah rata-rata sekitar Rp10 juta per hektare. Dengan produktivitas lima ton gabah kering per hektare, petani masih memiliki ruang keuntungan yang cukup besar.
"Kami menjual empat ton gabah kering dengan harga Rp6.500 per kg bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp26 juta, sedangkan satu ton untuk cadangan pangan keluarga," ujar Ruhiana.
Editor : Adi Permana
Sabtu, 20 Juni 2026 15:14 WIB
Sabtu, 20 Juni 2026 14:30 WIB
Kamis, 18 Juni 2026 13:20 WIB
Senin, 15 Juni 2026 12:36 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...