Bahlil: Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Ditarget Selesai Juli-Agustus

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Pangannew.id - Ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih menjadi pekerjaan rumah besar di sektor energi. Di tengah konsumsi yang terus meningkat, pemerintah mempercepat pengembangan tabung Compressed Natural Gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG bersubsidi yang selama ini sebagian besar dipenuhi dari pasar luar negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan uji coba tabung CNG 3 kilogram kini telah memasuki tahap ketiga dan ditargetkan rampung pada Juli hingga Agustus 2026. Setelah pengujian selesai, pemerintah akan mengevaluasi peluang penerapannya secara bertahap di sejumlah wilayah.

"Sekarang lagi diuji coba tahap ketiga. Insyaallah, doain, Juli ini atau Agustus sudah bisa kami selesaikan," kata Bahlil di Tuban, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).

Menurut Bahlil, penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru. Selama ini gas alam terkompresi telah dimanfaatkan di sektor perhotelan, restoran, kafe (horeka), hingga untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, pemanfaatannya masih terbatas menggunakan tabung berukuran besar dengan kapasitas di atas 10 hingga 20 kilogram.

Pemerintah kini mengembangkan tabung CNG berukuran kecil yang setara dengan tabung LPG 3 kilogram agar dapat digunakan oleh rumah tangga. Pengujian dilakukan di Indonesia dan China.

Ia menjelaskan tantangan terbesar dalam pengembangan tabung tersebut terletak pada aspek keselamatan dan rekayasa teknis. Tekanan gas CNG mencapai sekitar 200 hingga 250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG yang hanya berkisar 5 hingga 10 bar.

"Kalau itu (uji coba tabung) selesai, baru kami bisa dorong secara massal untuk beberapa tempat yang bisa kami lakukan," ujarnya.

Pengembangan CNG dinilai penting mengingat kebutuhan LPG nasional masih jauh melampaui kapasitas produksi dalam negeri. Bahlil mengungkapkan konsumsi LPG Indonesia telah mencapai lebih dari 8,5 juta metrik ton per tahun, sedangkan produksi nasional baru sekitar 1,91 juta metrik ton.

Artinya, sekitar 7,47 juta metrik ton atau hampir 90 persen kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi global sekaligus membebani neraca perdagangan dan anggaran negara.

Di sisi lain, CNG dinilai memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya berasal dari gas alam domestik. Pemerintah juga telah menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Editor : Adi permana


Kolom Komentar

You must login to comment...