Selasa, 11 Agustus 2026 09:55 WIB
Pangannews.id – Pasar Taiwan mulai terbuka bagi produk olahan lele dari Jawa Barat. Sebanyak 10,5 ton lele marinasi beku dikirim untuk pertama kalinya ke negara tersebut dengan nilai ekspor sekitar Rp400 juta.
Pengiriman dilakukan dari Pergudangan Ketapang, Kabupaten Bandung, pada 6 Agustus 2026. Produk tersebut diproduksi PT Asha Nuova International dan menjadi salah satu produk olahan perikanan asal Jawa Barat yang mulai masuk ke pasar Asia Timur.
Ekspor perdana itu tidak berhenti pada satu pengiriman. Volume pengiriman berikutnya ke Taiwan direncanakan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 20 ton pada September mendatang.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ishartini mengatakan, terbukanya akses pasar Taiwan menunjukkan produk lele Indonesia mampu memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan negara tujuan.
“Sehingga otoritas kompeten di tempat atau negara tujuan mengakui kualitas produk dan memberikan persetujuan untuk masuk ke pasar mereka,” ujar Ishartini, dikutip dari keterangan resminya.
Menurut Ishartini, persyaratan tersebut dipenuhi sejak tahap produksi hingga pengolahan. Di tingkat budi daya, pelaku usaha menerapkan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB), sedangkan aspek pengolahan diperkuat dengan Sertifikasi Kelayakan Pengolahan (SKP) dan penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).
Standar tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan produk perikanan yang dikirim ke luar negeri memenuhi ketentuan keamanan dan mutu pangan di negara tujuan.
Ishartini melihat lele marinasi mulai memiliki peluang yang sama dengan sejumlah produk perikanan lain yang telah lebih dulu dikenal di pasar global, termasuk ikan nila.
Pengiriman berikutnya ke Taiwan bahkan telah disiapkan. Selain lele, produk berbahan baku ikan nila juga dijadwalkan menyusul pada September 2026.
Di Jawa Barat, peluang ekspor tersebut juga berhadapan dengan persoalan klasik, yakni memastikan ketersediaan bahan baku ketika permintaan dari pasar luar negeri meningkat.
Kepala UPT Badan Mutu KKP Bandung Darwin Syah Putra mengatakan penguatan produksi di tingkat hulu menjadi salah satu kunci agar industri pengolahan dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
KKP, kata dia, mendorong pengembangan kampung budi daya tematik sebagai salah satu sumber pasokan bahan baku. Produk dari pembudi daya selanjutnya dapat diserap oleh unit pengolahan ikan (UPI) yang telah memenuhi persyaratan sertifikasi mutu.
Skema tersebut sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM perikanan di Jawa Barat untuk masuk ke rantai pasok industri pengolahan dan ekspor.
Sepanjang 2025, produk perikanan Jawa Barat yang dikirim ke pasar internasional mencapai 1.800 ton dengan nilai sekitar Rp42 miliar.
Komoditas yang diekspor cukup beragam, antara lain layur, cumi, tenggiri, sumpia udang, sotong, cunang, dan nila. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Kanada, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Filipina, Brunei Darussalam dan Timor Leste.
Editor : Adi Permana
Selasa, 11 Agustus 2026 10:13 WIB
Senin, 10 Agustus 2026 12:08 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...