BRIN Ungkap 2.564 Spesies Tumbuhan Berpotensi Jadi Sumber Pangan

Pers Pangannews

10 jam yang lalu

news
Ilustrasi umbi-umbian. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Indonesia memiliki sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pangan nasional.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo, mengatakan ribuan spesies tersebut merupakan bagian dari kekayaan pangan lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan di berbagai daerah.

Dari jumlah itu, lebih dari 77 spesies merupakan sumber karbohidrat lokal. Selain itu, terdapat ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, serta tanaman pangan tradisional yang telah berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan setempat selama ratusan hingga ribuan tahun.

Menurut Wawan, keberadaan pangan lokal dengan karakter yang beragam dapat menjadi modal untuk menghadapi berbagai gangguan terhadap sistem pangan, mulai dari perubahan iklim hingga gangguan pasokan dan gejolak pasar.

Diversifikasi pangan, kata dia, tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai memperbanyak pilihan makanan.

Pengembangan sumber pangan lokal juga berkaitan dengan penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian pengetahuan tradisional, pengurangan jejak karbon dari distribusi pangan yang panjang, serta pemeliharaan keberagaman genetik tanaman.

"Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan," ujar Wawan, dalam Jamming Session #10 bertema "Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan".

Sumber Ketahanan Pangan

Menurutnya, potensi pangan lokal tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka ketahanan pangan yang lebih luas. Selama ini, ketahanan pangan sering kali dikaitkan dengan peningkatan produksi. Padahal, kemampuan menghasilkan pangan sangat bergantung pada kondisi lingkungan tempat pangan itu diproduksi.

Ia mencontohkan tanah, air, keanekaragaman hayati, penyerbukan dan iklim sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pangan.

"Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan," katanya.

Besarnya ketergantungan produksi pangan terhadap kondisi ekosistem juga terlihat dari data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang disampaikan Wawan. Lebih dari 95 persen produksi pangan dunia bergantung pada tanah yang sehat.

Di sisi lain, sekitar sepertiga lahan pertanian global telah mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kesuburan tanah dan praktik pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.

Jasa penyerbukan juga menjadi faktor penting. Sekitar 75 persen tanaman pangan dunia bergantung, baik seluruhnya maupun sebagian, pada penyerbukan yang dilakukan serangga dan satwa liar. Menurunnya populasi penyerbuk akibat hilangnya habitat dinilai dapat menjadi ancaman bagi produktivitas pertanian.

Dalam konteks Indonesia, Wawan menyebut kekayaan keanekaragaman hayati, plasma nutfah, keragaman ekosistem dan ribuan spesies pangan lokal sebagai modal ekologis yang strategis. Pengembangan potensi tersebut perlu diperkuat dengan data ilmiah, kajian etnobotani serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Wawan juga menepis anggapan bahwa konservasi dapat mengurangi produksi pangan. Menurut dia, ekosistem yang sehat justru dapat mendukung produktivitas dalam jangka panjang.

Tanah yang kaya bahan organik dapat menyimpan air dan unsur hara lebih baik. Hutan yang terjaga membantu mempertahankan siklus hidrologi dan mengurangi risiko kekeringan. Sementara keanekaragaman hayati menyediakan musuh alami hama sehingga ketergantungan terhadap pestisida dapat ditekan.

Pendekatan agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu dan pertanian regeneratif, menurut Wawan, dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

"Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan. Kita perlu bergeser dari paradigma produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan, yaitu sistem pangan yang tidak hanya menghasilkan panen hari ini, tetapi juga tetap produktif bagi generasi mendatang," jelasnya.

Pembahasan mengenai pangan lokal dalam forum tersebut juga menghadirkan Praktisi Pengembangan Masyarakat dan Ketahanan Pangan Ir. Haryanti Koostanto serta Pegiat Ketahanan Pangan Mandiri dan Pendiri Kebun Atqiya, Britania Sari.

Haryanti membahas tantangan dan peluang pangan lokal dalam sistem pangan yang berkeadilan. Sementara Britania berbagi pengalaman mengenai pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan pangan lokal, termasuk optimalisasi pekarangan rumah dan penguatan program Posyandu.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...