Persilangan Sapi Jaliteng Berpotensi Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Sapi Jatileng. (Foto : ugm.ac.id)

Pangannews.id - Sapi Jaliteng berpeluang digunakan sebagai sumber genetik alternatif dalam pengembangan sapi Bali. Pemanfaatan semen beku dari pejantan Jaliteng dalam penelitian menunjukkan hasil reproduksi yang lebih baik ketika digunakan pada induk sapi Bali.

Penelitian tersebut mencatat conception rate (CR) mencapai 95,50 persen pada induk sapi Bali yang mendapat inseminasi menggunakan semen Jaliteng. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok yang menggunakan semen sapi Bali, dengan CR sebesar 70 persen.

Selain tingkat kebuntingan, nilai service per conception pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng juga lebih rendah.

Temuan itu diperoleh mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan UGM, Adi Tiya Warman, melalui penelitian disertasi berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”.

Adi melakukan penelitian di Lombok Tengah dan Jawa Timur dengan membandingkan produktivitas sapi Bali dengan keturunan hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng menggunakan inseminasi buatan.

Hasil persilangan tidak hanya terlihat pada aspek reproduksi. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dengan sapi Bali juga menunjukkan ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni.

Ketika mencapai masa sapih, rata-rata panjang badan pedet hasil persilangan tercatat 88,15 cm. Sementara itu, panjang badan pedet Bali berada pada rata-rata 82,59 cm.

Meski merupakan hasil persilangan, sejumlah ciri khas sapi Bali tetap terlihat. Di antaranya warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, serta garis punggung hitam.

Jaliteng merupakan hasil perkawinan sapi Bali dengan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut dimulai pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Keturunan dari program itu kemudian dikenal sebagai sapi Jaliteng.

Pengembangan semen beku pejantan Jaliteng selanjutnya dilakukan untuk mendukung pemanfaatannya dalam program inseminasi buatan.

“Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,” kata Adi, dilansir dari laman UGM.

Meski demikian, hasil penelitian tersebut belum menjadi gambaran akhir mengenai performa keturunan persilangan. Adi menyebut diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat perkembangan keturunan setelah masa sapih hingga mencapai usia dewasa.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui secara lebih menyeluruh produktivitas serta karakteristik keturunan hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...