13 jam yang lalu
Pangannews.id - Penyakit bangkalan masih menjadi persoalan yang dihadapi petani durian di Sulawesi Tengah (Sulteng). Hingga kini belum ada obat yang dinilai mampu mengatasi penyakit tersebut.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memilih menggandeng Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu untuk mencari solusi melalui riset. Kerja sama penelitian itu dilakukan bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulteng.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan penyakit bangkalan dapat memengaruhi kualitas buah durian. Karena itu, pemerintah daerah mencoba mencari penanganan yang lebih tepat melalui penelitian.
“Bangkalan menjadi momok bagi petani durian, hingga kini belum ada obat-obatan mengatasi penyakit itu. Harapan kami adanya kerja sama riset antara Dinas TPH Sulteng bersama Unisa Palu dapat menciptakan penangkal penyakit buah tersebut,” kata Anwar dalam acara Merdeka Ekspor Durian Sulawesi Tengah 2026 di Palu, Rabu (12/8/2026).
Selama belum ditemukan solusi melalui riset, petani melakukan sejumlah langkah untuk menekan penyakit tersebut. Upaya itu meliputi sanitasi kebun, pengaturan tingkat kelembaban, pemupukan berimbang, serta penggunaan fungisida dan biopestisida secara rutin.
Anwar mengatakan persoalan bangkalan menjadi salah satu keluhan petani yang disampaikan kepada pemerintah daerah. Persoalan tersebut perlu segera dicarikan jalan keluar seiring peluang pasar durian Sulawesi Tengah di luar negeri, khususnya China.
“Karena prospek pasar durian saat ini di luar negeri terutama China sangat menjanjikan, maka produksi di daerah harus ditopang dengan penerapan protokol ekspor,” ujarnya.
Kerja sama riset antara Dinas TPH Sulteng dan Unisa Palu itu telah ditandatangani dalam rangkaian acara Merdeka Ekspor Sulteng 2026.
Potensi durian di Sulawesi Tengah sendiri cukup besar. Data Dinas TPH Sulteng mencatat luas kebun durian mencapai sekitar 36 ribu hektare, dengan sekitar 12 ribu hektare di antaranya sudah menghasilkan.
Sementara itu, data BPS 2025 mencatat produksi durian Sulteng mencapai 95.140 ton. Produksi tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota, dengan sentra terbesar berada di Poso dan Parigi Moutong.
Menurut Anwar, potensi tersebut perlu didukung tata kelola pertanian dan hilirisasi agar memberikan nilai lebih bagi daerah. Pemprov Sulteng mendorong upaya itu melalui program berani panen.
Di tengah peluang pasar ekspor, ia meminta petani menjaga mutu buah. Kualitas produk, menurutnya, harus diperhatikan sejak dari kebun hingga industri agar produksi durian dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Kami juga segera mengatur regulasi khusus untuk durian, termasuk rekayasa musim panen supaya terus berkelanjutan,” kata Anwar.
Editor : Adi Permana
Rabu, 12 Agustus 2026 21:09 WIB
Rabu, 12 Agustus 2026 13:32 WIB
Senin, 10 Agustus 2026 13:48 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...