4 jam yang lalu
Pangannews.id - Ancaman kekeringan meteorologis mulai perlu diantisipasi di Sulawesi Tenggara (Sultra), terutama oleh petani dan pemangku kepentingan sektor pertanian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta penggunaan air irigasi dilakukan lebih efisien untuk menghadapi potensi berkurangnya pasokan air hingga September.
Sejumlah wilayah di Sultra bagian selatan mulai menunjukkan kondisi kering berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) dan peta kerawanan kekeringan BMKG.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan durasi HTH yang panjang berpotensi memicu kekeringan ekstrem yang dapat berdampak langsung pada area persawahan.
"Peningkatan potensi kekeringan cukup tinggi di bulan Agustus dan September. Bukan hanya hutan yang kita waspadai, tetapi efisiensi air untuk irigasi dan pertanian juga memang patut diwaspadai serta diantisipasi," kata Faizal, dikutip dari Antara.
Kondisi kering bahkan mulai terlihat di Kota Kendari. Berdasarkan analisis BMKG, sepanjang Agustus belum tercatat hujan di wilayah tersebut.
"Hasil analisis untuk di Kota Kendari ini sepanjang bulan Agustus belum tercatat turun hujan," ujarnya.
Ancaman serupa juga mulai terlihat di sejumlah wilayah yang menjadi lumbung pertanian sekaligus kawasan yang rawan mengalami kekeringan. Wilayah tersebut antara lain Bombana, Kolaka, Konawe Selatan, hingga bagian selatan Buton Utara.
Selain berdampak terhadap lahan pertanian, periode tanpa hujan yang panjang disertai angin juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Risiko tersebut terutama perlu diwaspadai di wilayah yang memiliki tutupan vegetasi savana.
Editor : Adi Permana
Senin, 10 Agustus 2026 13:48 WIB
Sabtu, 08 Agustus 2026 16:26 WIB
Sabtu, 08 Agustus 2026 15:49 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...