20 jam yang lalu
Pangannews.id - Lumbung Mataraman di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta, didorong untuk tidak berhenti sebagai ruang penyimpanan atau penguatan cadangan pangan masyarakat.
Konsep lumbung juga dinilai penting untuk menjaga nilai, moral, dan budaya yang mulai menghadapi tantangan perubahan zaman.
Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, mengatakan keberadaan lumbung secara tradisional memang berkaitan erat dengan ketahanan pangan.
Hasil bumi seperti padi, jagung, ketela hingga kedelai disimpan sebagai cadangan yang dapat digunakan masyarakat ketika memasuki masa paceklik atau menghadapi krisis pangan.
Namun, menurut dia, konsep tersebut dapat dimaknai lebih luas. Lumbung juga dapat menjadi ruang untuk menyimpan dan meneruskan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup masyarakat.
“Fungsi lumbung tidak sebatas sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan. Lumbung dimaknai sebagai ruang penyimpanan nilai, tata nilai, dan budaya,” kata Suwarno usai Monitoring dan Evaluasi Kalurahan Mandiri Budaya Tamanmartani.
Ia menilai konsep tersebut relevan diterapkan di tengah perubahan sosial yang membuat sebagian nilai budaya semakin mudah ditinggalkan. Lumbung, dalam pemaknaan yang lebih luas, dapat menjadi pengingat agar masyarakat tidak kehilangan pedoman yang selama ini diwariskan antargenerasi.
“Ketika masyarakat mulai melupakan nilai-nilai luhur budaya, lumbung perlu kembali dibuka agar nilai-nilai tersebut dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Suwarno melihat Tamanmartani memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk mengembangkan gagasan tersebut.
Kehidupan masyarakat di kalurahan itu masih memperlihatkan sejumlah nilai yang menjadi bagian dari karakter budaya Yogyakarta, seperti sopan santun, andap asor, keramahan, semangat bekerja, serta optimisme dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai tersebut juga tercermin dari keberlangsungan sejumlah tradisi masyarakat. Nyadran, kendhuri, merti dusun hingga gotong royong masih dijalankan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Yang menarik, sebagian kegiatan budaya itu tetap hidup karena digerakkan masyarakat sendiri, bukan semata-mata karena program atau bantuan pemerintah.
Kondisi tersebut, kata Suwarno, menunjukkan bahwa pelestarian budaya di Tamanmartani memiliki akar di tengah masyarakat.
Pemerintah kalurahan dan pengelola Kalurahan Mandiri Budaya tinggal memperkuat ekosistem agar tradisi yang sudah hidup tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Karena itu, ia melihat Lumbung Mataraman dapat memiliki peran yang lebih besar dibanding sekadar menghadapi persoalan pangan.
“Lumbung ini tidak hanya berfungsi sebagai penangkal krisis ketahanan pangan, tetapi juga sebagai benteng pencegah krisis nilai, krisis moral, dan krisis budaya,” tegasnya.
Menurut Suwarno, tantangan terbesar bukan hanya memastikan tradisi tetap digelar, tetapi bagaimana nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan dijalankan oleh generasi berikutnya.
“Kita harus menjaga agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri Yogyakarta,” katanya.
Editor : Adi Permana
20 jam yang lalu
Jumat, 07 Agustus 2026 20:27 WIB
Jumat, 07 Agustus 2026 19:59 WIB
Jumat, 07 Agustus 2026 13:32 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...