Matoa Prafi Diolah dari Buah Segar Jadi Produk Bernilai Jual

Pers Pangannews

16 jam yang lalu

news
Buah Matoa. (Foto : goodlife)

Pangannews.id - Buah matoa yang melimpah di kawasan Prafi, Manokwari, Papua Barat, selama ini belum banyak memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Saat musim panen tiba, buah tersebut umumnya hanya dijual dalam kondisi segar. Bahkan, sebagian pohon matoa disebut ditebang setelah masa panen.

Kondisi itu mendorong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) Kelompok 12 untuk mengembangkan pengolahan matoa menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Ketua TEP Kelompok 12 Mhd Zamal Nasution mengatakan potensi matoa di Prafi cukup besar karena tumbuh melimpah, terutama saat musim panen. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan buah segar sehingga keuntungan yang diperoleh masyarakat belum maksimal.

“Berangkat dari alasan tersebut, kami ingin mengajarkan kepada mereka cara lain menikmati buah Matoa dan disulap menjadi produk lainnya,” kata Zamal, dikutip dari laman UNAIR.

Tim tersebut akan menjalankan program pemberdayaan masyarakat selama empat bulan, Agustus-November 2026, di kawasan Prafi. Pengembangan matoa menjadi salah satu bagian dari program bertajuk Hilirisasi Komoditas Matoa Prafi: Transformasi Kawasan Melalui Ekosistem Ekonomi Terpadu.

Tidak berhenti pada buahnya, pengolahan juga diarahkan untuk memanfaatkan bagian lain dari matoa. Produk yang disiapkan antara lain dodol, selai, stik buah, sambal, olahan biji matoa, teh antioksidan dari kulit matoa, hingga es krim berbasis susu.

Pemanfaatan tersebut diharapkan membuat matoa tidak lagi berhenti sebagai komoditas musiman yang dijual dengan harga buah segar. Produk olahan juga membuka peluang penyimpanan dan pemasaran yang lebih panjang dibandingkan menjual buah dalam kondisi segar.

Beberapa produk olahan tersebut juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai menu pendamping Program Makan Bergizi (MBG) di wilayah setempat.

Selain meningkatkan nilai jual, tim juga ingin mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan pohon matoa setelah panen. Menurut Zamal, pohon tidak semestinya ditebang hanya karena buahnya telah dipetik.

“Kami juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa ketika panen tiba itu dipetik, bukan malah langsung ditebang,” ujarnya.

Pengembangan matoa juga diarahkan agar memberi dampak lebih luas terhadap ekonomi rumah tangga. Tim akan melibatkan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga.

Penguatan UMKM diharapkan tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga membentuk rantai ekonomi baru di Prafi. Ketika permintaan terhadap produk olahan tumbuh, produksi dan kegiatan usaha di tingkat masyarakat dapat ikut berkembang.

“Jadi ketika UMKM berkembang, harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi para perempuan dan anak-anak muda juga di sana,” kata Zamal.

Namun, tantangan yang dihadapi bukan semata-mata soal teknologi pengolahan. Tim menilai penerimaan masyarakat menjadi faktor penting agar inovasi yang ditawarkan dapat bertahan setelah program pendampingan selesai.

“Setiap daerah memiliki karakter sosial, budaya, dan pengalaman yang berbeda terhadap berbagai program pembangunan. Karena itu, pendekatan kami adalah mendengarkan sebelum menawarkan solusi,” tuturnya.

Karena itu, pengembangan komoditas matoa akan dilakukan dengan melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan pembuatan produk, tetapi berlanjut hingga pemasaran.

Rencana pemasaran produk akan diarahkan melalui toko oleh-oleh di Manokwari, platform digital, serta jejaring 10 perguruan tinggi yang terlibat dalam Tim Ekspedisi Patriot. Jalur tersebut diharapkan dapat memperluas pasar produk olahan matoa dari Prafi

Zamal berharap pengembangan matoa pada akhirnya membuat masyarakat melihat komoditas lokal bukan sekadar buah yang dipanen dan dijual, tetapi sebagai sumber ekonomi yang bisa dikembangkan.

“Kami ingin masyarakat Prafi semakin bangga terhadap potensi yang mereka miliki, terutama matoa sebagai buah asli Papua,” ujarnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...