23 jam yang lalu
Pangannews.id - Perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menuntut kesiapan pasokan bahan pangan dan dapur umum, tetapi juga memunculkan tantangan baru berupa pengelolaan sampah dan limbah pangan.
Bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperkirakan akan meningkatkan volume sisa makanan hingga minyak jelantah yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pengelola SPPG dinilai memiliki peran strategis, bukan hanya dalam memastikan makanan bergizi tersalurkan kepada penerima manfaat, tetapi juga mengurangi pemborosan pangan sejak tahap perencanaan hingga pengolahan.
Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Jawa Tengah, Indah Sumarno, mengatakan aktivitas operasional SPPG berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah cukup besar apabila tidak disertai pengelolaan yang baik.
"Pelibatan Koordinator Wilayah SPPG karena aktivitas keseharian di tempat mereka berpotensi menghasilkan sampah yang cukup banyak, termasuk minyak jelantah. Kami berharap hal ini dapat mendorong kesadaran dan komitmen semua pihak untuk mengurangi pemborosan pangan serta mengelola sampah dengan bertanggung jawab," kata Indah, saat membuka Kegiatan Edukasi Stop Boros Pangan dan Gemah Ripah (Gerakan Olah Sampah, Rejeki Keluarga Melimpah), di Ungaran, Kamis (6/8/2027).
Menurutnya, pemborosan pangan masih banyak dipicu kebiasaan membeli bahan makanan secara berlebihan, memasak tidak sesuai kebutuhan, hingga belum optimalnya pemanfaatan sisa pangan yang masih layak dikonsumsi.
Karena itu, setiap tahapan pengelolaan pangan, mulai dari perencanaan, penyimpanan, pengolahan hingga konsumsi, perlu dilakukan secara lebih cermat agar jumlah makanan yang terbuang dapat ditekan.
"Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki nilai strategis dalam mendukung kualitas hidup, kesehatan, dan produktivitas masyarakat. Karena itu, setiap tahapan pengelolaan pangan perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak terjadi pemborosan," ujarnya.
Selain sampah organik, minyak jelantah juga menjadi limbah yang mendapat perhatian. Selama ini, minyak goreng bekas masih kerap dibuang begitu saja, padahal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi terbarukan sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Untuk itu, Pemprov Jawa Tengah mengembangkan program Jelantah Jadi Rupiah, yang mendorong pengumpulan minyak jelantah berbasis komunitas melalui kolaborasi TP PKK, Posyandu, kader masyarakat, serta sistem digital BioSirkular.
"Program ini tidak hanya mendorong pengumpulan dan pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi terbarukan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui mekanisme yang transparan dan terukur," kata Indah.
Ia menambahkan, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari tata kelola dapur MBG. Menurutnya, SPPG memiliki posisi strategis untuk memastikan penggunaan bahan pangan lebih efisien, sekaligus mengelola sisa makanan dan sampah dengan baik.
"Koordinator Wilayah SPPG memiliki posisi strategis dalam mendukung penyelenggaraan layanan pemenuhan gizi yang efektif, efisien, dan bertanggung jawab melalui perencanaan kebutuhan pangan yang tepat, pengelolaan bahan pangan secara optimal, serta pengelolaan sisa pangan dan sampah dengan baik," ujarnya.
Editor : Adi Permana
16 jam yang lalu
23 jam yang lalu
Rabu, 05 Agustus 2026 15:49 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...