Ikan Sibula yang Dulu Murah Kini Diolah Jadi Bakso hingga Abon di Kampung Sahari

Pers Pangannews

3 jam yang lalu

news
Warga memproduksi nugget dari ikan sibula. (Foto : transmigrasi.go.id)

Pangannews.id - Ikan sibula yang melimpah di perairan Kampung Sahari, Kabupaten Fak-fak, Papua Barat, kini mulai memberi nilai ekonomi lebih besar bagi warga. Di tangan kelompok mama-mama dan nelayan setempat, ikan yang sebelumnya kurang diminati dan lebih sering dijual mentah itu diolah menjadi beragam produk pangan.

Melalui program pelatihan dan pendampingan, warga transmigrasi Kampung Sahari kini mampu mengolah hasil tangkapan laut menjadi bakso, nugget, kerupuk, abon hingga sambal ikan.

Pengolahan tersebut membuka peluang bagi warga untuk mendapatkan nilai tambah dari hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Nayu Ohebor, salah satu peserta pendampingan, mengatakan keterampilan baru tersebut membuat warga memiliki pilihan untuk mengembangkan usaha dari hasil tangkapan sendiri.

“Alhamdulillah, hari ini kami sudah bisa mengelola ikan menjadi abon, bakso, nugget, dan kerupuk. Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga,” katanya, dikutip dari laman resmi Kementerian Trasmigrasi RI.

Pendampingan dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan memperkenalkan teknologi tepat guna untuk pengolahan hasil laut. Salah satunya teknik sterilisasi dalam pengemasan.

Dengan teknik tersebut, sambal ikan disebut dapat bertahan hingga empat bulan pada suhu ruang tanpa menggunakan bahan pengawet.

“Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar-benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan ke depan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka,” ungkap Ketua TEP Unhas Kasmiati.

Sebanyak 20 mama-mama yang mengikuti program tersebut dibagi menjadi empat kelompok usaha kecil. Masing-masing kelompok mendapatkan peralatan produksi yang sama untuk mendukung kegiatan pengolahan.

Pendampingan tidak hanya menyasar kelompok perempuan. Para nelayan laki-laki juga mendapatkan pelatihan mengenai penanganan ikan setelah ditangkap agar tetap higienis sebelum masuk ke tahap pengolahan.

Peralatan produksi yang digunakan dalam kegiatan tersebut kemudian diserahkan kepada warga. Dengan begitu, kelompok usaha dapat melanjutkan produksi secara mandiri setelah program pendampingan selesai.

Bagi warga, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Mereka mulai merencanakan pembentukan kelompok usaha permanen untuk mengembangkan produk olahan hasil laut Kampung Sahari.

“Insyaallah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini. Harapan kami, program seperti ini terus didatangkan ke Kampung Sahari,” ujar Nayu.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai pengembangan potensi lokal seperti yang dilakukan warga Kampung Sahari menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam di setiap daerah.

“Tidak ada pembangunan di tanah air ini yang one size fits all. Sistemnya harus tailor-made,” ujarnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...