54 menit yang lalu
Pangannews.id – Pisang Mas Kirana asal Lumajang, Jawa Timur, mulai menjajaki pasar Singapura. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mempertemukan komoditas tersebut dengan calon mitra dari Singapura untuk membahas peluang pasokan dan pengiriman ke pasar luar negeri.
Penjajakan masih berada pada tahap awal. Pembahasan mencakup karakter produk, kebutuhan pasar, kesiapan pasokan, umur simpan, hingga kemungkinan pengiriman percobaan sekitar 1–2 ton.
Dua calon mitra, yakni SumiFru dan Eastern Green, terbuka mempertimbangkan Pisang Mas Kirana sebagai sumber pasokan baru. SumiFru memasok sejumlah jaringan ritel seperti FairPrice/NTUC, Cold Storage, 7-Eleven, Giant, dan RedMart, sedangkan Eastern Green merupakan importir sekaligus pemasok bagi rumah makan dan peritel kecil. SumiFru saat ini masih memperoleh pasokan dari Filipina.
Kepala Bidang Hortikultura Kabupaten Lumajang Hendra Suwandaru mengatakan pengiriman percobaan akan menjadi tahap penting untuk melihat kondisi buah selama perjalanan, kualitas saat tiba, sekaligus respons konsumen.
“Untuk tahap awal, tentu kita perlu membangun kepercayaan melalui pengiriman percobaan. Setelah kualitas dan respons pasar sesuai, peluang kerja sama komersial bisa dikembangkan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Lumajang.
Punya Modal untuk Pasar Ekspor
Pisang Mas Kirana memiliki karakter yang menjadi daya tarik produk. Ukurannya relatif kecil dan seragam, kulitnya berwarna kuning keemasan, rasanya manis, serta teksturnya renyah. Tingkat kemanisannya berada pada kisaran 22–29 derajat Brix.
Produk tersebut juga telah memiliki Indikasi Geografis yang terdaftar pada 2024. Dari sisi keamanan pangan, hasil pengujian yang disampaikan dalam penjajakan menunjukkan produk memenuhi standar yang relevan, termasuk SNI dan Codex.
“Jadi, bukan hanya dari sisi rasa, tetapi juga ada aspek keamanan pangan dan identitas produk yang menjadi nilai tambah. Ini yang kami perkenalkan kepada calon pembeli di Singapura,” kata Hendra.
Ia mengatakan Pisang Mas Kirana merupakan pisang lokal premium yang memiliki karakteristik menarik untuk pasar ekspor.
“Pisang Mas Kirana ini merupakan pisang lokal premium yang sudah memiliki indikasi geografis. Dari sisi kualitas, produk ini memiliki karakteristik yang menarik untuk pasar ekspor, sehingga kami terus mendorong agar potensi tersebut dapat dikembangkan,” ujarnya.
Produksi Puluhan Ton per Bulan
Peluang ekspor tersebut ditopang basis produksi yang cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 629 petani Pisang Mas Kirana dengan luas lahan mencapai 238 hektare dan lebih dari 45 ribu pohon produktif.
Produksi saat ini sekitar 43,8 ton per bulan. Dengan pengelolaan dan peningkatan produktivitas, kapasitas tersebut diperkirakan berpotensi meningkat hingga sekitar 191 ton per bulan.
Namun, produksi besar belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Calon pembeli juga membutuhkan kualitas yang seragam dan pasokan yang konsisten.
“Dari sisi produksi, kita sudah memiliki basis yang cukup. Tinggal bagaimana meningkatkan konsistensi pasokan, kualitas, dan pengelolaannya agar bisa memenuhi kebutuhan pasar ekspor,” jelas Hendra.
Kebutuhan tersebut membuat upaya menjaga kualitas harus dimulai sejak tanaman berada di lahan hingga buah siap dikirim.
Salah satu modal dalam penjajakan pasar Singapura adalah hasil uji umur simpan. Pisang Mas Kirana disebut mampu bertahan hingga sekitar dua minggu pada suhu ruang.
Meski demikian, pengiriman nyata tetap diperlukan untuk mengetahui bagaimana buah bertahan dalam kondisi perjalanan sebenarnya. Uji kirim nantinya akan melihat proses sejak panen, pengemasan, pengiriman, hingga produk diterima pembeli.
Hasil market testing tersebut akan menjadi bahan evaluasi sebelum peluang kerja sama komersial dikembangkan.
Petani Mulai Mengenal Rantai Ekspor
Masuk ke pasar internasional juga membawa persyaratan baru, mulai dari standar produk, pengemasan, dokumen, pengiriman, hingga ketentuan perdagangan.
Dalam penjajakan muncul usulan skema transisi yang memungkinkan pembeli melakukan kontrak langsung dengan koperasi atau petani. Sementara proses pengiriman dan pemenuhan ketentuan ekspor pada tahap awal dapat disubkontrakkan kepada eksportir yang telah berpengalaman.
Skema tersebut diharapkan memberi ruang bagi koperasi dan petani untuk mengenal proses perdagangan internasional secara bertahap.
Di tengah peluang tersebut, produksi masih menghadapi tantangan. Perubahan kondisi iklim, termasuk dampak El Nino, turut memengaruhi produksi Pisang Mas Kirana. Penurunan produksi berada pada kisaran 15–20 persen.
Pendampingan kepada petani dan penggunaan pupuk organik terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas tanaman.
Bagi petani, keberhasilan menembus pasar Singapura nantinya bukan hanya soal membawa produk Lumajang ke luar negeri. Jika penjajakan dan uji kirim berjalan baik hingga berkembang menjadi kerja sama perdagangan, rantai pemasaran yang lebih luas diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi hasil kebun mereka.
“Harapannya, melalui penjajakan ini, Pisang Mas Kirana tidak hanya dikenal sebagai produk unggulan Lumajang, tetapi juga semakin memiliki peluang untuk diterima di pasar global,” pungkas Hendra.
Editor : Adi Permana
14 menit yang lalu
Kamis, 10 September 2026 13:26 WIB
Selasa, 08 September 2026 11:07 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...