Tekan Penyusutan Bobot dan Stres Sapi Induk Laktasi, Tim Dospulkam IPB University Edukasi Peternak Lampung Selatan

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Tim Dospulkam dari DRI IPB University menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di KPT Maju Sejahtera, Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari, Kab. Lampung Selatan, Sabtu (5/9/2026). (Foto : istimewa)

Pangannews.id - Transportasi ternak sering kali menjadi salah satu titik kritis dalam rantai logistik peternakan yang kurang mendapat perhatian. Penanganan yang keliru selama pengangkutan tidak hanya memicu stres dan cedera pada ternak, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan produksi susu serta penyusutan bobot badan yang signifikan.

Mengatasi persoalan tersebut, tim Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) dari Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) IPB University menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di KPT Maju Sejahtera, Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan, pada Sabtu, 5 September 2026.

Mengusung tema besar "Optimalisasi Performa Produksi Sapi Induk Laktasi Melalui Inovasi Sistem Seleksi dan Budidaya Ternak Aplikatif" yang diketuai oleh Dr. Sigid Prabowo, kegiatan ini menghadirkan serangkaian pelatihan teknis bagi para peternak lokal.

Urgensi Manajemen Transportasi Sapi Induk Laktasi

Dalam sesi materi khusus, anggota tim Dospulkam IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan, Edit Lesa Aditia, S.Pt., M.Si., memaparkan topik bertajuk "Manajemen Transportasi Ternak (Sapi)".

Di hadapan 28 peternak yang hadir, Edit menekankan pentingnya penerapan kaidah Animal Welfare (Kesejahteraan Hewan) dan penanganan bertekanan rendah (low-stress handling) dalam transportasi ternak, khususnya untuk sapi induk laktasi.

"Pengangkutan sapi antarwilayah di Indonesia mencapai 400 ribu hingga 500 ribu ekor per tahun. Tanpa prosedur operasional yang standar, durasi pengiriman yang lama bisa memicu penyusutan bobot badan hingga 15 persen. Bahkan untuk jarak dekat sekalipun, penyusutan bobot tetap berkisar antara 2 hingga 5 persen," jelas Edit.

Ia menambahkan bahwa dampak pengangkutan yang buruk pada sapi laktasi tidak hanya berhenti pada penurunan bobot, tetapi juga berisiko menurunkan produksi susu secara drastis, memicu kepincangan, hingga meningkatkan risiko mortalitas.

Penerapan Standar Low-Stress Handling dan Mitigasi Stres

Dalam pemaparannya, tim IPB University membagikan kerangka rancangan Panduan Operasional Baku (POB) Transportasi Sapi yang terbagi dalam tiga tahapan utama:

  1. Pra-Transportasi (Persiapan dan Seleksi):
    • Fitness to Travel: Sapi harus dipastikan sehat melalui Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), tidak dalam kondisi cedera, pincang, atau bunting tua.
    • Persiapan Pakan & Minum: Pemuasaan (fasting) sebelum keberangkatan tidak boleh melebihi 12 jam. Perjalanan idealnya dimulai 4 jam setelah pemberian pakan dan air minum terakhir.
    • Fasilitas Kendaraan: Penggunaan rampa pemuatan (cattle ramp) dengan kemiringan ideal 15°–26°, lantai tidak licin, ketersediaan alas (bedding), serta ventilasi yang cukup.
  2. Selama Transportasi:
    • Pengaturan Kepadatan (Space Allowance): Luas ruang minimum harus disesuaikan dengan bobot sapi. Untuk jarak dekat (<8 jam), sapi bobot 400 kg membutuhkan ruang sekitar . Untuk jarak jauh (>8 jam), ketersediaan ruang diperluas hingga .
    • Pengontrolan Mikroklimat: Suhu ideal dalam kendaraan dijaga antara  dengan Temperature Humidity Index (THI) < 72. Pengangkutan disarankan menghindari puncak suhu terik siang hari (pukul 10.00–13.00).
  3. Pasca-Transportasi (Prosedur Rekondisi):
    • Penurunan ternak dilakukan secara tenang tanpa menggunakan kekerasan, pemukulan, atau pemelintiran ekor.
    • Pemeriksaan kesehatan menyeluruh terhadap potensi luka, memar, dan kepincangan.
    • Penanganan adaptasi pakan secara bertahap: pakan hijauan segar/awetan diberikan pada 2–3 hari pertama sebelum perlahan diperkenalkan kembali dengan pakan konsentrat.

Dorong Kemitraan Peternak dan Akademisi

Ketua KPT Maju Sejahtera beserta para anggota menyambut antusias materi yang disampaikan. Diskusi interaktif mengenai penyesuaian tempat pakan/minum di truk angkut dan metode penanganan sapi yang minim stres menjadi fokus utama dalam sesi tanya jawab.

Ketua Tim Dospulkam, Dr. Sigid Prabowo, berharap edukasi dan pendampingan ini dapat mengoptimalkan produktivitas serta efisiensi usaha peternakan sapi di Lampung Selatan. Melalui sinergi antara akademisi dan peternak di lapangan, penerapan standar kesejahteraan hewan diharapkan dapat menekan kerugian ekonomi peternak secara berkelanjutan.(*/ADV)


Kolom Komentar

You must login to comment...