21 jam yang lalu
Pangannews.id - Ubur-ubur menjadi salah satu komoditas laut yang memberi nilai ekonomi cukup besar bagi masyarakat Temajuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dalam satu musim, satu kilang atau pengumpul bisa menghasilkan hingga 60 ton dengan omzet diperkirakan mencapai Rp700 juta.
Komoditas tersebut tidak hanya diserap pasar dalam negeri. Ubur-ubur dari Temajuk juga dikirim ke Malaysia dan Taiwan, selain dipasarkan ke Pulau Jawa.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sambas, Hendy Wijaya mengatakan, ubur-ubur biasanya melimpah pada Maret hingga Mei. Dalam satu musim, produksi dari satu kilang rata-rata berkisar 40 ton hingga 60 ton.
"Hasil ubur-ubur selain dipasarkan ke Pulau Jawa, juga dikirim ke Malaysia dan Taiwan dengan harga jual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram," kata Hendy dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Menurut Hendy, ubur-ubur hanyalah salah satu dari sejumlah komoditas yang bisa dikembangkan di perairan Temajuk. Kawasan tersebut juga memiliki lobster pasir, pakistan, mutiara dan batu, serta kepah, tengkuyung, kepiting, remis laut dan gurita.
Untuk komoditas bernilai ekonomi tinggi, terdapat pula tenggiri, bawal putih, bawal hitam, kakap, kakap merah, manyung dan lobster. Komoditas-komoditas tersebut berpotensi menjadi produk unggulan kawasan pada periode tertentu sepanjang Februari hingga Juli.
Potensi itu didukung posisi geografis Sambas yang memiliki garis pantai sekitar 198,76 kilometer. Wilayah ini berbatasan dengan Laut Natuna dan Sarawak, Malaysia, sehingga kawasan pesisirnya memiliki akses strategis untuk kegiatan penangkapan ikan dan perdagangan hasil laut.
Produksi perikanan tangkap yang tercatat melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat juga rutin melampaui 11.000 ton per tahun.
Namun, besarnya potensi perikanan Temajuk belum sepenuhnya ditopang fasilitas produksi. Nelayan di kawasan itu belum memiliki SPBU khusus nelayan dan masih mengandalkan SPBU Tanah Hitam sebagai satu-satunya fasilitas pengisian BBM di Kecamatan Paloh.
Persoalan serupa terjadi pada kebutuhan es. Belum adanya pabrik es di Temajuk membuat nelayan menggunakan es rumah tangga. Jika membutuhkan es dalam jumlah besar untuk menjaga kualitas ikan, mereka harus mengambil pasokan dari Tanah Hitam.
Hasil tangkapan nelayan selama ini sebagian dipasarkan melalui pengepul di Liku dan Tanah Hitam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Paloh dan sekitarnya. Sementara komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dikirim ke Pemangkat, Singkawang hingga Pontianak.
Hendy menilai pembukaan kembali perlintasan Temajuk-Telok Melano dapat menjadi salah satu jalan untuk memperpendek rantai pemasaran. Jalur tersebut juga dinilai bisa mempermudah dan mempercepat pengurusan perizinan perdagangan lintas batas.
"Pembukaan perlintasan sangat berpotensi mendatangkan investor dalam negeri maupun luar negeri, mengingat potensi perikanan dan produk olahan ikan di Temajuk sangat menjanjikan," katanya.
Editor : Adi Permana
Senin, 14 September 2026 11:33 WIB
Sabtu, 12 September 2026 10:59 WIB
Sabtu, 12 September 2026 10:19 WIB
Kamis, 10 September 2026 13:26 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...