Sederet Persoalan Sungai Martapura, dari Sampah, Aktivitas Industri, hingga Jamban Terapung

Pers Pangannews

Selasa, 31 Desember 2024 15:32 WIB

news
Sederet Persoalan Sungai Martapura, dari Sampah hingga Jamban Terapung. (Foto : ANTARA)

Pangannews.id - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Hanifah Dwi Nirwana, mengungkapkan, permasalahan pencemaran di Sungai Martapura sudah teridentifikasi, namun hingga saat ini belum ada solusi yang dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

Hal itu diungkap saat susur Sungai Martapura di Banjarmasin bersama Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup, Sigit Reliantoro, Selasa, 31 Desember 2024.

"Insya Allah dengan adanya kunjungan dari Kementerian Lingkungan Hidup, kita bisa mencari solusi bersama untuk melakukan langkah kolaboratif dalam menyelesaikan permasalahan di Sungai Martapura," ujar Hanifah.

Menurutnya, permasalahan utama yang dihadapi Sungai Martapura antara lain adalah sampah yang belum terkendali dengan baik, enceng gondok yang tumbuh subur, jamban terapung, serta aktivitas industri yang membuang limbah langsung ke badan sungai.

Selain itu, pengelolaan sampah dan pertumbuhan pemukiman yang tidak terkendali di sepanjang sungai menjadi faktor penting yang turut memperburuk kondisi ekosistem Sungai Martapura.

Untuk itu, Hanifah mengusulkan agar program Kampung Biru dan Kampung Hijau yang telah terbukti berhasil di beberapa daerah bisa direplikasi di sepanjang aliran Sungai Martapura.

Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam pengelolaan lingkungan hidup, seperti pengelolaan sampah dan pengendalian pertumbuhan pemukiman di sepanjang sungai.

Pada kesempatan yang sama, Hanifah mengajak Plt Deputi PPKL Kementerian LH, Sigit Reliantoro, untuk menyusuri Sungai Martapura, dimulai dari Desa Sungai Rangas hingga Dermaga Siring Menara Pandang di Kota Banjarmasin.

Kegiatan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi sungai dan mendiskusikan langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperbaiki situasi tersebut.

Sementara itu, Sigit Reliantoro mengungkapkan temuan penting terkait dengan rendahnya indeks kualitas air Sungai Martapura. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Kementerian Lingkungan Hidup, yang menurutnya harus mulai fokus pada pemulihan kualitas lingkungan sungai di Indonesia.

"Berdasarkan arahan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, kita akan menyusun rencana perlindungan dan pemulihan kualitas air sungai, yang akan dimulai di City Room, Ciliwung, Jakarta," jelas Sigit.

Sigit menambahkan, meskipun Sungai Martapura memberikan dampak positif bagi masyarakat, daya dukung dan daya tampung ekologi sungai tersebut sangat rendah. Oleh karena itu, perlu ada upaya besar untuk melakukan perbaikan agar sungai dapat kembali berfungsi secara optimal.

Ia juga mengakui bahwa upaya pemulihan pencemaran sungai di Indonesia, termasuk di Sungai Martapura, belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

"Seluruh elemen masyarakat dan pemerintah belum bekerja secara kolaboratif dan sinergis untuk menangani persoalan pencemaran sungai ini," ujar Sigit.

 

Dengan adanya kunjungan ini, Sigit berharap bisa menjadi titik awal untuk menguatkan kolaborasi antar pihak terkait, sehingga dapat menciptakan Sungai Martapura yang asri dan berkelanjutan.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...