BPOM Soroti Celah Keamanan Pangan Usai Insiden Keracunan MBG di NTT

Pers Pangannews

Rabu, 06 Agustus 2025 14:02 WIB

news
Deputi III BPOM, Elin Herlina, dalam konferensi pers bersama sejumlah lembaga terkait di Jakarta, Senin (4/8/2025) lalu. (Foto : dok. BPOM)

Pangannews.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan keprihatinan serius atas kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan yang menimpa ratusan pelajar di beberapa sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Juli 2025 lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi III BPOM, Elin Herlina, dalam konferensi pers bersama sejumlah lembaga terkait di Jakarta, Senin (4/8/2025) lalu.

Elin menyampaikan bahwa insiden ini seharusnya menjadi peringatan penting untuk mengevaluasi secara menyeluruh sistem pelaksanaan program MBG, terutama aspek keamanan pangan.

"Keamanan pangan itu krusial. Mulai dari higienitas, pengolahan, penyimpanan, sampai distribusi. Celah kecil bisa berakibat besar," ujar Elin.

BPOM mengapresiasi koordinasi cepat antara Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), Dinas Kesehatan, dan BBPOM Kupang setelah insiden terjadi.

Tim gabungan segera mengumpulkan sampel makanan dan data epidemiologis untuk keperluan uji laboratorium dan identifikasi agen penyebab keracunan.

Namun demikian, BPOM mengingatkan bahwa penanganan kasus tidak cukup jika tidak diikuti dengan pembenahan sistem.

Elin menegaskan bahwa tata kelola pangan dalam program MBG harus memperhatikan penerapan rantai dingin (cold chain), terutama untuk bahan pangan sensitif seperti ikan dan daging.

BPOM pun menyatakan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari sistem pengawasan pangan nasional, khususnya pada program skala besar seperti MBG.

BGN: Perlu Introspeksi dan Reviu Internal

Senada dengan BPOM, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Deputi Tata Kelola, Tigor Pangaribuan, mengakui perlunya introspeksi internal atas insiden tersebut. Ia menyebut program MBG yang sudah berjalan sejak Februari 2025 perlu dievaluasi secara teknis.

Kita sudah punya SOP dan juknis, tapi kejadian ini membuktikan masih ada celah. Maka, bahan baku, proses pengolahan, dan distribusinya harus dikaji ulang," ujar Tigor.

Ia juga meminta agar SPPG melakukan evaluasi harian di lapangan, bukan hanya sekadar rutinitas pelaporan.

Selain itu, tim gabungan dari BGN, BPOM, dan Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) telah turun langsung ke lokasi terdampak di Kupang untuk berdialog dengan pelaksana lapangan dan memberikan rekomendasi perbaikan teknis agar insiden serupa tidak terulang.

Salah satu catatan penting yang disampaikan BPOM adalah pentingnya kolaborasi erat antara SPPG dan pihak sekolah.

Sekolah penerima manfaat MBG diharapkan tidak hanya menjadi tempat distribusi, tapi juga turut aktif memantau kualitas dan keamanan makanan yang masuk ke lingkungan sekolah.

BPOM juga mengingatkan kembali 5 prinsip dasar keamanan pangan kepada masyarakat luas, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dan matang, memasak makanan dengan benar, menyimpan makanan pada suhu aman, serta menggunakan bahan dan air yang aman.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...