Sasaka Banten Hidupkan Kembali Ngunder Cai sebagai Seruan Merawat Sungai

Pers Pangannews

Minggu, 05 Oktober 2025 11:53 WIB

news
Sasaka Banten hidupkan kembali ngunder cai sebagai seruan merawat Sungai. (Foto : Antara)

Pangannews.id - Tradisi Ngunder Cai di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, kini tak lagi sekadar ritual tahunan. Perayaan yang dahulu dikenal sebagai upacara adat masyarakat hulu sungai itu, kini dihidupkan kembali sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian Sungai Cibanten, sungai yang menjadi urat nadi sejarah dan peradaban masyarakat Banten.

Melalui perhelatan Sasaka Banten, prosesi pengambilan air sakral tersebut dikemas ulang menjadi ruang refleksi ekologis. Tradisi ini tidak hanya menandai warisan budaya, tetapi juga menyerukan kesadaran kolektif untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Kurator Sasaka Banten, Yopi Hendrawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai pengingat akan makna penting air dan sungai dalam kehidupan masyarakat Banten. Ia menegaskan, identitas Banten sebagai wilayah bersejarah tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Sungai Cibanten.

“Makna dari Ngunder Cai adalah bagaimana kita menghormati air dan menjaga sungai sebagai sumber kehidupan. Di sini kita melihat Banten bukan hanya dari sisi budaya, tapi juga dari sejarah dan ekologi yang membentuknya,” ujar Yopi, dikutip dari Antara.

Untuk pertama kalinya, tradisi Ngunder Cai diperluas jangkauannya. Prosesi pengambilan air kini dilakukan melintasi tujuh titik mata air, mulai dari wilayah hulu, tengah, hingga hilir sungai. Upaya ini menjadi simbol keterhubungan antara wilayah-wilayah yang selama ini terpisah oleh aliran air yang sama.

“Ini bukan hanya ritual, tapi upaya menyatukan kembali hulu, tengah, dan hilir dalam semangat menjaga sungai. Kami mencoba mengadopsi tradisi lama ke dalam gerakan baru dengan pesan pelestarian lingkungan yang kuat,” jelasnya.

Lebih dari sekadar seremoni budaya, prosesi ini juga mengandung unsur edukatif. Air yang dikumpulkan sebagian akan dilarung ke laut sebagai doa, sementara sebagian lainnya akan diuji di laboratorium untuk mendorong kerja sama lintas pihak dalam menjaga kualitas air Sungai Cibanten.

Kegiatan ini turut melibatkan berbagai komunitas lintas iman, seniman, dan pegiat lingkungan, yang bersama-sama menyerukan pentingnya menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan. Yopi berharap gerakan ini bisa menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih sadar akan pentingnya kelestarian alam.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti di sini. Ia harus menjadi gerakan berkelanjutan,  dimulai dari tindakan nyata dan teladan yang bisa kita tunjukkan setiap hari,” tutupnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...