Bapanas Atur Aliran Cabai Antar Daerah untuk Redam Lonjakan Harga

Pers Pangannews

Senin, 22 Desember 2025 14:32 WIB

news
Bapanas atur aliran cabai antar daerah untuk redam lonjakan harga.

Pangannews.id - Lonjakan harga cabai di berbagai daerah menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah pengendalian dengan mengatur distribusi dari wilayah sentra produksi ke daerah yang kekurangan pasokan.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai merah di sejumlah daerah dilaporkan menembus Rp100 ribu per kilogram, bahkan lebih tinggi di beberapa wilayah terpencil.

Kenaikan ini terjadi di tengah musim hujan yang memengaruhi produksi serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang akhir tahun.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyebut faktor cuaca menjadi salah satu pemicu utama terganggunya pasokan cabai dari tingkat petani.

Menurutnya, hujan berdampak langsung pada proses panen, baik dari sisi volume maupun intensitas petik.

“Begitu cuaca berubah, terutama saat hujan, petani biasanya tidak memetik atau hasil petikan menjadi jauh lebih sedikit dibanding kondisi normal,” kata Maino.

Data pemantauan Bapanas menunjukkan kenaikan harga cabai terjadi di sebagian besar kabupaten dan kota pada pekan kedua Desember. Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat langkah distribusi lintas daerah untuk menahan tekanan harga di pasar.

Bapanas memfasilitasi kerja sama antara pedagang besar di Jakarta dengan petani cabai di Aceh Tengah. Dari kerja sama ini, pasokan cabai diproyeksikan mencapai rata-rata 13 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan pasar di wilayah defisit.

Pasokan tersebut akan dialirkan ke sejumlah pasar induk, antara lain Pasar Senen, Kramat Jati, Tanah Tinggi, Cibitung, serta Pasar Caringin Bandung.

Selain Aceh Tengah, Bapanas juga menjajaki sentra produksi lain seperti Jeneponto, Enrekang, dan Wajo di Sulawesi Selatan untuk memperkuat suplai nasional.

Maino mengakui distribusi menjadi tantangan tersendiri, terutama akibat cuaca ekstrem yang berpotensi menghambat transportasi. Namun, Bapanas terus memantau kondisi pasokan dan harga secara harian di tingkat nasional.

“Kalau distribusi terganggu, harga pasti terkoreksi. Karena itu kami pantau perkembangannya dari hari ke hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, pola kerja sama antar daerah sebenarnya telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Melalui skema ini, daerah non-sentra dapat mengakses pasokan langsung dari wilayah penghasil, dengan dukungan pemerintah daerah, termasuk dalam hal pembiayaan distribusi dan transportasi.

Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya percepatan distribusi cabai dan bawang sebagai kunci pengendalian harga pangan jelang Nataru.

“Produksi ada, tinggal distribusinya yang harus kita kuatkan,” katanya.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Desember 2025, produksi cabai besar diperkirakan meningkat 22,3 persen menjadi 127,8 ribu ton, sedangkan produksi cabai rawit mencapai 108,6 ribu ton. Dengan kebutuhan nasional sekitar 76–78 ribu ton, pemerintah menilai pasokan secara nasional masih mencukupi.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...