Senin, 23 Februari 2026 14:25 WIB
Pangannews.id - Pemerintah Indonesia menyepakati tambahan impor pangan dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari perjanjian dagang resiprokal kedua negara. Komoditas yang masuk dalam kesepakatan tersebut antara lain beras khusus sebanyak 1.000 ton dan 580.000 ekor ayam.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanesto mengatakan, impor beras yang disetujui hanya untuk kategori khusus dan realisasinya akan menyesuaikan kebutuhan pasar dalam negeri.
“Alokasinya terbatas dan bergantung pada permintaan domestik,” ujar Haryo dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).
Ia menegaskan volume tersebut sangat kecil dibandingkan produksi nasional. Pada 2025, produksi beras Indonesia tercatat mencapai 34,69 juta ton.
“Komitmen impor 1.000 ton itu tidak signifikan terhadap total produksi nasional,” katanya. Haryo juga menyebut Indonesia tidak mengimpor beras dari AS dalam lima tahun terakhir.
Selain beras, pemerintah membuka akses impor 580.000 ekor ayam hidup dari AS dengan nilai transaksi diperkirakan 17–20 juta dollar AS. Ayam yang didatangkan merupakan grand parent stock (GPS), yakni indukan utama yang dibutuhkan untuk pengembangan bibit unggas di dalam negeri.
Menurut Haryo, fasilitas pembibitan GPS belum tersedia di Indonesia sehingga pasokan genetik masih mengandalkan impor. Di samping itu, Indonesia juga rutin mengimpor 120.000–150.000 ton daging ayam jenis mechanically deboned meat (MDM) untuk bahan baku industri olahan seperti sosis dan nugget.
Pemerintah menegaskan impor ayam potong atau bagian tertentu seperti paha dan dada pada prinsipnya tidak dilarang, selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, serta ketentuan teknis yang berlaku.
“Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik. Perlindungan peternak tetap menjadi prioritas,” ujar Haryo.
Dalam kesepakatan yang sama, Indonesia turut membuka akses impor jagung asal AS untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Kebutuhan bahan baku jagung sektor tersebut pada 2025 diperkirakan mencapai 1,4 juta ton, guna menjaga pasokan bagi industri yang berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto dan ekspor nasional.
Editor : Adi Permana
Rabu, 04 Maret 2026 19:34 WIB
Selasa, 03 Maret 2026 20:34 WIB
Selasa, 03 Maret 2026 20:04 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...