Sabtu, 11 April 2026 16:58 WIB
Pangannews.id - Perubahan pelan tapi nyata terjadi di Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Limbah kotoran kambing yang sebelumnya hanya menumpuk di kandang warga, kini mulai diolah menjadi pupuk organik yang memiliki nilai jual.
Perubahan ini tak lepas dari peran tim akademisi Universitas Brawijaya (UB) melalui program Doktor Mengabdi 2025 yang dipimpin Dr. Yusron Sugiarto dari Fakultas Teknologi Pertanian. Bersama dosen anggota dan mahasiswa, mereka turun langsung mendampingi warga mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Selama ini, potensi limbah ternak di desa tersebut belum tergarap optimal. Padahal, kotoran kambing mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang bermanfaat untuk kesuburan tanah.
“Dengan pengolahan yang tepat, limbah ini bisa menjadi pupuk berkualitas dan membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” kata Yusron, dikutip dari laman resmi UB.
Sebagai langkah awal, tim UB menghadirkan mesin pengolah berkapasitas hingga 150 kilogram per jam. Alat ini mempercepat proses produksi pupuk yang sebelumnya dilakukan secara manual. Di sisi lain, warga juga diajak membangun rumah produksi sederhana sebagai pusat kegiatan pengolahan.
Pendampingan tidak berhenti pada penyediaan alat. Tim akademisi juga memberikan pelatihan menyeluruh, mulai dari teknik fermentasi, penyusunan standar operasional produksi, hingga manajemen usaha.
Dalam prosesnya, kotoran kambing diolah dengan campuran bahan lain seperti EM4, dolomit, molase, dan sekam, lalu difermentasi selama dua hingga tiga pekan hingga siap digunakan.
Dari program ini, lahir produk pupuk organik lokal yang diberi nama “Pupuk Kanara”. Warga dilibatkan langsung dalam proses penentuan merek, desain kemasan, hingga strategi pemasaran.
“Awalnya kami tidak tahu kalau ini bisa dijual. Sekarang sudah mulai paham cara mengemas dan memasarkannya,” ujar salah satu warga peserta pelatihan.
Dari sisi ekonomi, usaha ini dinilai cukup prospektif. Biaya produksi pupuk relatif rendah, sementara harga jual memberikan margin keuntungan yang menarik bagi warga.
Tim UB mencatat, pelatihan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara signifikan, termasuk dalam aspek branding dan kewirausahaan. Lebih dari 90 warga terlibat dalam berbagai sesi pendampingan yang digelar selama program berlangsung.
Menurut Yusron, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga membangun sistem ekonomi berbasis potensi lokal.
“Ini bagian dari upaya menciptakan ekonomi sirkular di desa, di mana limbah tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber penghasilan,” ujarnya.
Ia berharap, inovasi ini dapat terus berlanjut meski program pendampingan telah selesai. Dengan demikian, Desa Secang bisa menjadi contoh pengembangan desa mandiri berbasis pengelolaan sumber daya lokal.
“Kalau konsisten, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh pendapatan rumah tangga warga,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
You must login to comment...
Be the first comment...