6 jam yang lalu
Pangannews.id - Persoalan benih, serangan penyakit tanaman, hingga tingginya biaya produksi masih menjadi pekerjaan rumah bagi petani hortikultura di Jawa Barat. Di tengah tantangan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat mulai mempercepat penerapan hasil riset langsung ke lapangan.
Komoditas seperti kentang, kubis, dan bawang merah menjadi fokus utama. Tiga komoditas itu selama ini kerap menghadapi persoalan produktivitas akibat kualitas benih yang tidak seragam dan serangan penyakit tanaman yang sulit dikendalikan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari mengatakan riset yang dikembangkan diarahkan untuk menjawab kebutuhan petani, bukan berhenti di laboratorium.
“Kolaborasi ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, terutama dalam mendorong kemandirian benih dan peningkatan daya saing komoditas strategis,” kata Puji, dikutip dari laman BRIN.
Salah satu teknologi yang kini didorong ialah sistem perbenihan kentang berbasis aeroponik. Teknologi ini memungkinkan bibit kentang diproduksi lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak dibanding metode konvensional.
Di Balai Benih Kentang Pengalengan, sistem itu tengah diuji dan disempurnakan untuk menghasilkan benih yang lebih stabil. Salah satu pengembangannya dilakukan melalui penggunaan penyangga lubang tanam empat arah agar pertumbuhan stek kentang lebih optimal.
“Kami sedang mematangkan teknologi aeroponik ini, dan hasilnya direncanakan untuk dipatenkan bersama sebagai joint patent antara BRIN dan Distanhorti Jabar,” ujar Kepala Balai Benih Kentang Pengalengan Tatang.
Selain soal benih, serangan penyakit tanaman juga menjadi perhatian serius. Penyakit hawar daun pada kentang, antraknosa pada cabai dan bawang merah, serta fusarium pada tanaman hortikultura lain masih menjadi ancaman yang kerap menekan hasil panen petani.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, BRIN mulai mengembangkan biopestisida berbasis agen hayati seperti Bacillus dan Metarhizium. Penggunaan mikroorganisme itu dinilai lebih ramah lingkungan dan dapat menekan serangan hama sejak fase telur.
Di sisi lain, BRIN juga memperkenalkan varietas kentang baru bernama “Bimasakti”. Varietas turunan Bio Granola tersebut diklaim memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit hawar daun Phytophthora yang selama ini menjadi momok petani kentang di dataran tinggi.
Peneliti BRIN Kusmana mengatakan varietas tersebut sedang memasuki tahap pemeliharaan kultur jaringan sebelum diperbanyak sebagai benih.
“Varietas ini dirancang untuk menjawab kebutuhan petani terhadap benih yang tahan penyakit dan berdaya hasil tinggi,” katanya.
Modernisasi pertanian juga mulai diarahkan ke penggunaan teknologi digital. BRIN saat ini mengembangkan sistem pertanian presisi berbasis internet of things (IoT) bersama kelompok tani di Pangandaran.
Melalui teknologi tersebut, penggunaan air dan nutrisi tanaman dapat diatur lebih presisi. Bahkan, sensor suara mulai diuji untuk mendeteksi kemunculan hama lebih awal sebelum serangan meluas.
“IoT memungkinkan pengelolaan budi daya yang lebih presisi dan responsif terhadap kondisi lapangan,” ujar Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN Dwinita Wikan Utami.
Sementara itu, Jawa Barat juga tengah memperkuat cadangan sumber benih hortikultura. Balai Benih Hortikultura Jawa Barat saat ini mengelola sekitar 2.400 pohon induk buah, mulai dari durian, alpukat, hingga mangga.
Pohon induk tersebut dipersiapkan sebagai sumber entres atau bahan perbanyakan tanaman unggul guna menjaga kualitas bibit di tingkat petani.
Pemerintah daerah berharap penguatan riset dan produksi benih itu dapat memperbesar kemandirian hortikultura nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap benih impor yang selama ini masih digunakan untuk sejumlah komoditas unggulan.
Editor : Adi Permana
12 jam yang lalu
Rabu, 06 Mei 2026 18:30 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...