4 jam yang lalu
PanganNews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 14, Selasa (12/05/2026).
Kegiatan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pusluhtan RI dan diikuti oleh penyuluh pertanian serta petani dari berbagai daerah di Indonesia ini, mengangkat tema “CSR : dari lahan kosong jadi sawah produktif” yang menyoroti percepatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) sebagai upaya peningkatan produksi pangan nasional dan penguatan swasembada pangan berkelanjutan.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan lahan baru dan optimalisasi lahan rawa menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Kita harus bergerak cepat meningkatkan luas tanam dan produksi pangan nasional. Penyuluh adalah ujung tombak dalam mendampingi petani agar lahan-lahan potensial dapat segera produktif,” tegas Mentan Amran.
Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa keberhasilan cetak sawah membutuhkan kolaborasi dan pendampingan yang kuat dari seluruh elemen pertanian.
“Penyuluh harus hadir di lapangan, memastikan petani mendapatkan pendampingan teknologi, pengelolaan lahan, dan penguatan kelembagaan agar lahan baru benar-benar mampu menghasilkan produksi optimal,” ujar Idha.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho menyampaikan bahwa program CSR memerlukan kesiapan penyuluh dalam mendampingi petani, khususnya di wilayah rawa yang memiliki karakteristik berbeda dengan sawah biasa.
Setiap lokasi cetak sawah wajib dibentuk Brigade Pangan sebagai upaya mendorong transformasi pertanian modern melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
"Penyuluh harus aktif mengawal percepatan tanam dan memastikan kesiapan lahan agar target swasembada pangan dapat tercapai,” tegas Eko.
Selaku Narasumber utama, Penyuluh Pertanian Ahli Muda Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Mambang menyampaikan jika proses mengubah lahan kosong menjadi sawah produktif membutuhkan tahapan panjang dan penanganan khusus, terutama pada wilayah rawa di Kalimantan Tengah. Tantangan utama yang dihadapi di lapangan antara lain kondisi tanah masam, keberadaan lapisan zat besi, pengaturan tata air, serta keterbatasan akses menuju lokasi cetak sawah.
Mambang menjelaskan bahwa proses pembukaan lahan harus dilakukan secara bertahap mulai dari pembersihan vegetasi, pengolahan tanah, pembangunan saluran air, hingga penyiapan lahan agar benar-benar siap ditanami. Menurutnya, keberhasilan cetak sawah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kesiapan petani, Brigade Pangan, serta pendampingan penyuluh secara intensif di lapangan.
Mambang menambahkan pentingnya pemahaman penyuluh terhadap karakteristik lahan rawa dan tanah sulfat masam agar mampu memberikan solusi yang tepat kepada petani. Penggunaan dolomit untuk menurunkan tingkat keasaman tanah, pemilihan varietas yang sesuai, serta pengelolaan tata air menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan budidaya di lahan baru.
Terakhir, Mambang menyampaikan jika pendampingan dilakukan secara kolaboratif bersama dinas pertanian, pemerintah daerah, Brigade Pangan, serta berbagai pihak dari lingkup kementerian. Monitoring lapangan secara berkala terus dilakukan guna memastikan progres cetak sawah berjalan sesuai target dan lahan yang telah dibuka dapat segera dimanfaatkan untuk pertanaman padi.
Melalui kegiatan Ngobras diharapkan para penyuluh pertanian semakin siap mengawal program Cetak Sawah Rakyat sebagai bagian dari upaya percepatan swasembada pangan nasional. Kolaborasi, inovasi, dan semangat pendampingan di lapangan menjadi kunci penting dalam mewujudkan lahan-lahan baru yang produktif dan berkelanjutan. (*/Adv)
Selasa, 12 Mei 2026 15:49 WIB
Selasa, 12 Mei 2026 15:36 WIB
Selasa, 12 Mei 2026 11:30 WIB
Senin, 11 Mei 2026 11:25 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...