14 jam yang lalu
Pangannews.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi motor penggerak ekonomi rakyat dinilai belum sepenuhnya dirasakan peternak ayam petelur. Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, harga telur di tingkat kandang masih tertekan meski kebutuhan telur untuk program tersebut terus meningkat.
Kondisi itu membuat Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan peringatan keras. Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG diwajibkan membeli telur langsung dari peternak lokal. Dapur yang melanggar terancam dihentikan sementara operasionalnya.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan pihaknya menerima laporan bahwa kenaikan harga telur di tingkat konsumen tidak berbanding lurus dengan harga yang diterima peternak.
"Barusan saya dapat laporan dari para peternak bahwa harga di tingkat retail naik, tapi di tingkat peternakan tidak naik," kata Nanik saat menghadiri kegiatan Sinergi Ekonomi Kerakyatan Strategi Pemberdayaan Peternak dan Usaha Mikro dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Magetan, Senin (1/6/2026).
Menurut dia, kebijakan pembelian langsung dari peternak sebenarnya telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah maupun pengelola SPPG. Namun, praktik di lapangan menunjukkan keuntungan dari meningkatnya permintaan telur masih lebih banyak dinikmati pedagang dan perantara.
Karena itu, BGN kembali menginstruksikan seluruh dapur MBG di Magetan untuk memutus rantai distribusi yang terlalu panjang dan membeli telur langsung dari peternak setempat.
"Hari ini saya instruksikan ulang, seluruh SPPG khususnya di Magetan membeli langsung ke peternak. Kalau tidak membeli langsung ke peternak, dapurnya saya suspensi," ujar Nanik.
BGN bahkan memberikan tenggat waktu satu pekan untuk melihat dampak kebijakan tersebut terhadap harga telur di tingkat peternak. Jika tidak terjadi perbaikan harga, langkah lebih tegas akan diambil.
"Saya hitung satu minggu dari ini harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan harga, 71 SPPG saya tutup. Harus memakai telur dari Magetan dan beli dari petani," katanya.
Selain soal pembelian langsung, BGN juga mengingatkan setiap dapur MBG wajib melibatkan sedikitnya 15 pemasok lokal sebagaimana diatur dalam petunjuk teknis program. Ketentuan itu dimaksudkan agar manfaat ekonomi MBG menyebar ke lebih banyak pelaku usaha dan petani di daerah.
"Kalau ketahuan tidak memakai 15 supplier, maka kita suspend dapurnya karena tujuan program ini adalah meningkatkan ekonomi rakyat," kata Nanik.
Peringatan tersebut muncul setelah peternak mengeluhkan rendahnya serapan telur oleh sebagian dapur MBG. Teguh, peternak ayam petelur di Magetan, mengatakan sejumlah SPPG hanya membeli telur dalam jumlah kecil yang dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan operasional mereka.
Satu dapur MBG semestinya membutuhkan sekitar 1,5 kuintal telur per hari. Namun dalam praktiknya, ada dapur yang hanya membeli satu hingga dua kotak telur atau sekitar 15 hingga 30 kilogram.
"MBG itu seharusnya memerlukan sekitar satu setengah kuintal. Tapi yang diambil hanya satu kotak 15 kilogram atau dua kotak 30 kilogram," ujarnya.
Akibatnya, stok telur masih menumpuk di kandang peternak. Di saat yang sama, harga jual terus berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Saat ini harga telur di tingkat peternak Magetan berkisar Rp22.800 per kilogram. Bahkan sebagian peternak masih menjual di kisaran Rp21.000 per kilogram, sementara biaya produksi, terutama pakan ternak, terus meningkat.
Editor : Adi Permana
Rabu, 27 Mei 2026 14:37 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:17 WIB
Minggu, 24 Mei 2026 22:20 WIB
Rabu, 20 Mei 2026 11:23 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...