13 jam yang lalu
Pangannews.id - Kebutuhan karbon aktif untuk industri penjernihan air, pengolahan limbah, hingga sektor manufaktur terus meningkat. Di tengah besarnya permintaan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar membangun industri karbon aktif berbasis bahan baku dalam negeri, yakni batu bara dan cangkang kelapa sawit, yang sama-sama memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
Kajian yang dipaparkan dalam forum diseminasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan kedua bahan baku tersebut memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama layak dikembangkan secara komersial. Penilaian itu didasarkan pada perbandingan kebutuhan investasi, biaya operasional, hingga potensi keuntungan industri.
Wawan Irawan dari CV Pehakarsa Multitek Engineering mengatakan, analisis dilakukan terhadap pabrik karbon aktif berkapasitas 25 ribu ton bahan baku per tahun.
"Analisis ini menitikberatkan perbandingan struktur biaya investasi awal (CAPEX), pengeluaran operasional (OPEX), serta proyeksi margin keuntungan dari kedua komoditas andalan Indonesia tersebut," ujar Wawan, dilansir dari laman resmi BRIN.
Menurutnya, kapasitas bahan baku yang sama tidak menghasilkan volume karbon aktif yang identik karena masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
Batu bara peringkat rendah hingga menengah memiliki keunggulan berupa pasokan yang stabil sepanjang tahun dan kandungan karbon tetap (fixed carbon) yang tinggi. Sebaliknya, cangkang kelapa sawit menawarkan nilai tambah sebagai biomassa terbarukan yang lebih ramah lingkungan serta memiliki struktur pori alami yang mendukung kualitas karbon aktif.
Namun, bahan baku tersebut masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga di tingkat pengepul.
Perbedaan karakteristik juga memengaruhi besaran investasi awal. Industri berbasis batu bara membutuhkan fasilitas seperti reaktor pembakaran, unit preparasi bahan baku, sistem penanganan material, hingga pengendalian emisi sulfur.
Sementara industri berbahan baku cangkang sawit memerlukan fasilitas penyimpanan yang lebih luas karena densitas biomassa yang lebih rendah.
Pada sisi operasional, konsumsi energi menjadi pembeda utama. Wawan menjelaskan proses karbonisasi batu bara lebih efisien karena dapat memanfaatkan zat terbang hasil pembakaran sebagai sumber energi internal. Sebaliknya, proses aktivasi cangkang sawit membutuhkan konsumsi energi yang lebih besar.
"Pada skala input industri hulu sebesar 25 ribu ton per tahun, penentu utama titik impas bukan hanya harga bahan baku di gerbang pabrik, melainkan konsistensi nilai kalor proses serta persentase hasil (yield) karbon aktif yang memenuhi spesifikasi pasar," katanya.
Ia menambahkan, kajian tersebut juga menghitung indikator kelayakan investasi seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan payback period. Hasilnya menunjukkan industri karbon aktif berbasis batu bara maupun cangkang sawit sama-sama memiliki prospek yang baik karena produk lokal mampu bersaing dengan karbon aktif impor, terutama dari sisi efisiensi biaya logistik.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN David Candra Birawidha mengatakan hasil riset tidak boleh berhenti pada skala laboratorium, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan dunia usaha.
Menurut dia, BRIN berupaya menjembatani hasil penelitian dengan sektor industri melalui penyusunan kajian tekno-ekonomi sehingga inovasi yang dihasilkan memiliki dasar bisnis yang kuat.
"PRTM BRIN memosisikan diri sebagai episentrum inovasi teknologi mineral nasional. Melalui forum kajian tekno-ekonomi seperti ini, kami ingin memastikan setiap paten dan desain proses yang dilahirkan periset BRIN tidak berhenti di atas kertas, tetapi memiliki dasar keekonomian yang matang, kompetitif, dan siap diadopsi oleh mitra manufaktur lokal," ujarnya.
Editor : Adi Permana
Jumat, 19 Juni 2026 11:08 WIB
Rabu, 17 Juni 2026 16:30 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...