Ekspor Perikanan Melonjak, Industri Hilir Masih Dibayangi Logistik dan Teknologi

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada periode 2025–2026 telah mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat. (Foto : KKP)

Pangannews.id - Nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada periode 2025–2026 telah mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat. Di balik capaian tersebut, pemerintah masih menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan nilai tambah karena sebagian besar komoditas unggulan, terutama udang, masih diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yopi mengatakan transformasi dari ekspor bahan baku menuju industri pengolahan bernilai tinggi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan agar sektor perikanan benar-benar menjadi penggerak ekonomi biru sekaligus menopang ketahanan pangan nasional.

"Berdasarkan data memasuki periode 2025–2026, performa ekspor produk perikanan Indonesia menembus 6,27 miliar dolar Amerika dengan komoditas utama seperti udang, tuna, cakalang, cumi, sotong, rajungan, kepiting, dan rumput laut. Dengan nilai pemasaran dalam negeri yang juga tinggi, sektor ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi yang nyata, baik bagi daerah maupun nasional," kata Yopi, dikutip dari laman BRIN.

Menurut dia, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi perikanan nasional mencapai 24,58 juta ton per tahun. Target tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi industri sekaligus meningkatkan ketahanan protein hewani melalui komoditas unggulan.

Rumput laut menjadi komoditas dengan target produksi terbesar, disusul perikanan tangkap dan budidaya. Sementara untuk kepentingan industri, pasar ekspor, dan pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah memprioritaskan pengembangan lima komoditas utama, yakni udang, tilapia, nila salin, lobster, kepiting, serta rumput laut.

"Target produksi ini tidak hanya menyasar pasar global, tetapi juga menjamin pasokan sekitar 30 juta ton kebutuhan protein ikan domestik serta mendukung kesiapan logistik pangan nasional," ujarnya.

Meski demikian, Yopi mengakui berbagai persoalan di lapangan masih menghambat peningkatan daya saing sektor perikanan.

Pada sektor perikanan tangkap, misalnya, pemanfaatan teknologi masih belum merata. Mayoritas nelayan masih menggunakan alat tangkap tradisional dengan keterbatasan perangkat navigasi seperti GPS. Akibatnya, kerugian ekonomi akibat penurunan mutu hasil tangkapan di atas kapal masih cukup tinggi.

Di sektor budidaya, pelaku usaha masih menghadapi tingginya biaya operasional, keterbatasan modal, serta rendahnya penerapan teknologi pembenihan dan pembesaran, terutama pada tambak-tambak tradisional.

Sementara itu, praktik illegal fishing juga masih menjadi ancaman bagi keberlanjutan sumber daya perikanan nasional.

Menurut Yopi, tantangan terbesar justru berada pada hilirisasi. Meskipun produk perikanan Indonesia telah dipasarkan ke 147 negara dengan tujuan utama Amerika Serikat, China, dan negara-negara ASEAN, sekitar 60 persen ekspor udang masih berupa produk beku tanpa pengolahan lebih lanjut.

"Industri hilir masih dibayangi oleh masalah biaya logistik, belum optimalnya rantai dingin (cold chain), serta struktur pelaku usaha yang masih didominasi oleh skala mikro," katanya.

Karena itu, BRIN mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha guna mempercepat hilirisasi industri perikanan.

Yopi mengatakan BRIN bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA/BAPPERIDA) akan membangun hub inovasi di sejumlah wilayah maritim sebagai pusat alih teknologi, peningkatan mutu produk, serta pengembangan manajemen pengolahan hasil perikanan.

Menurutnya, BRIDA harus berperan sebagai penghubung antara penyedia teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari nelayan, pembudidaya, hingga pelaku UMKM pengolahan hasil perikanan.

"Hub ini perlu dibangun untuk memastikan aliran alih teknologi, manajemen proses pengolahan, dan standardisasi mutu dapat diadopsi cepat oleh daerah. Nantinya akan diarahkan pada beberapa wilayah strategis yang memiliki basis maritim kuat," ujarnya.

Ia berharap model tersebut mampu menjadi contoh dalam mentransformasi sektor perikanan daerah agar tidak hanya mengandalkan pasar lokal, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah untuk pasar ekspor.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN Sri Nuryanti mengatakan BRIN siap menjadi penyedia teknologi sekaligus pendamping hilirisasi industri perikanan.

BRIN telah mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi pengolahan hasil perikanan seperti pindang patin berorientasi ekspor hingga teknologi budidaya berupa hapa semi kerucut untuk pemeliharaan juvenil biota laut, termasuk teripang pasir.

"Keunggulannya lebih efisien dalam penggunaan bahan baku, lebih mudah dalam penanganan, serta mempercepat proses pengumpulan benih teripang di dalam hapa," kata Sri Nuryanti.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...