16 jam yang lalu
Pangannews.id - Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih menjadi pekerjaan rumah di sektor pertanian nasional. Selain membebani biaya produksi, pemupukan yang belum efisien menyebabkan sebagian besar unsur hara hilang ke lingkungan sebelum sempat diserap tanaman.
Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan produktivitas lahan, tetapi juga mempercepat degradasi tanah dan meningkatkan pencemaran lingkungan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan teknologi pupuk NPK SRF (Slow Release Fertilizer) di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Teknologi ini dirancang untuk melepaskan unsur hara secara bertahap sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan tanaman dan mengurangi kehilangan nutrisi akibat pencucian maupun penguapan.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Sutardi, mengatakan selama ini tanaman hanya mampu memanfaatkan sekitar 35-40 persen unsur hara dari pupuk yang diberikan. Selebihnya hilang akibat proses alam sebelum dapat dimanfaatkan tanaman.
"Selama ini efisiensi pemupukan masih relatif rendah. Sebagian besar unsur hara justru hilang ke lingkungan sebelum sempat dimanfaatkan tanaman. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi petani, tetapi juga mempercepat degradasi kualitas tanah dan lingkungan," ujar Sutardi, dikutip dari laman BRIN.
Pupuk NPK SRF dikembangkan menggunakan bahan pelapis alami yang bekerja melalui mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion. Dengan cara itu, unsur nitrogen, fosfor, dan kalium dilepaskan secara perlahan mengikuti fase pertumbuhan tanaman.
"Petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang lebih tinggi, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pertanian," katanya.
Sutardi menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan teknologi tersebut mampu mengubah pola pelepasan pupuk dari Fast Release Fertilizer (FRF) menjadi Slow Release Fertilizer (SRF). Dampaknya, ketersediaan unsur hara di dalam tanah menjadi lebih lama sehingga kehilangan nutrisi dapat ditekan dan efisiensi penggunaan pupuk meningkat.
"Hasil penelitian menunjukkan teknologi tersebut mampu mengubah pola pelepasan pupuk dari Fast Release Fertilizer (FRF) menjadi SRF sehingga unsur nitrogen, fosfor, dan kalium tersedia lebih lama di dalam tanah. Dampaknya, kehilangan hara melalui pencucian maupun penguapan dapat ditekan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk konvensional," paparnya.
Teknologi ini memanfaatkan berbagai bahan alami sebagai pelapis pupuk, antara lain zeolit, kapur tohor, kapur kalsit, guano fosfat, biochar sekam padi, biochar tempurung kelapa, serta pupuk organik kambing.
Menurut Sutardi, residu pelapis tersebut ramah lingkungan, mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap, serta memiliki kandungan logam berat yang sangat rendah.
Selain meningkatkan efisiensi pemupukan, BRIN juga mencatat dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk SRF mampu memperbaiki perkembangan akar, meningkatkan jumlah anakan produktif, mempercepat laju fotosintesis, hingga meningkatkan hasil panen padi.
Pada sejumlah formula terbaik, penggunaan pupuk kimia bahkan dapat dikurangi hingga 25-50 persen tanpa menurunkan produktivitas, sekaligus menghasilkan gabah dengan kualitas lebih baik.
Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Lilik Nugraharja, menilai inovasi tersebut dapat menjadi salah satu jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari rendahnya kandungan bahan organik tanah hingga penggunaan pupuk yang belum efisien.
"Karena itu, kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai inovasi di laboratorium, melainkan dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Klaten," ujarnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Sidowayah. Lurah Desa Sidowayah, Mujahid Jaryanto, berharap inovasi tersebut tidak hanya dimanfaatkan petani, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha desa melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), maupun unit usaha lainnya.
"Saya sangat antusias dengan adanya workshop yang diadakan oleh BRIN dan sangat mendukung kegiatan ini karena bertujuan untuk kemajuan masyarakat Sidowayah. Kami siap mendukung, baik dari penyediaan sarana, prasarana, pendanaan, maupun berbagai kebutuhan lainnya agar program ini dapat berjalan baik," kata Mujahid.
Editor : Adi Permana
Jumat, 03 Juli 2026 12:43 WIB
Kamis, 02 Juli 2026 18:54 WIB
Kamis, 02 Juli 2026 16:35 WIB
Kamis, 02 Juli 2026 13:04 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...