7 jam yang lalu
Pangannews.id - Perubahan iklim tak lagi hanya berdampak pada cuaca dan hasil pertanian. Kenaikan suhu udara dan air kini mulai mengganggu proses reproduksi ikan budi daya, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan benih yang menjadi fondasi industri akuakultur nasional.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat, mengatakan perubahan kondisi lingkungan akibat pemanasan global dapat menghambat pelepasan hormon reproduksi pada ikan. Akibatnya, induk ikan gagal mencapai kematangan gonad sehingga tidak mampu memijah secara optimal.
"Pernah terjadi pada tahun 2017 saat kemarau panjang, banyak induk ikan budi daya di hatchery tidak matang gonad. Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan pada akhirnya akan diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan," ujar Agus dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Jumat (27/6/2026).
Menurut Agus, reproduksi ikan sangat bergantung pada keseimbangan hormon yang dipengaruhi kondisi lingkungan. Ketika suhu meningkat atau kualitas lingkungan memburuk, produksi hormon reproduksi menurun sehingga siklus pemijahan ikut terganggu.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi sebagai pendekatan yang mampu mempertahankan kemampuan reproduksi induk ikan meski berada pada kondisi lingkungan yang tidak ideal.
"Melalui teknologi manipulasi hormonal, hambatan tersebut dapat diatasi sehingga induk ikan tetap mampu bereproduksi secara normal meskipun menghadapi perubahan kondisi lingkungan," katanya.
Teknologi tersebut, lanjut Agus, membuka peluang bagi pembenih untuk memproduksi benih sepanjang tahun. Selama ini, sebagian besar ikan tropis hanya memijah secara alami pada musim hujan sehingga ketersediaan benih sering berfluktuasi mengikuti musim.
"Inovasi ini memungkinkan pembenih dan pembudi daya menghasilkan benih sepanjang tahun, tidak lagi bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode reproduksi alami sebagian besar ikan tropis. Dengan demikian, pasokan benih dapat terjaga dan mendukung peningkatan produksi ikan budi daya secara berkelanjutan," ungkapnya.
Agus menambahkan, teknologi kontrol hormonal kini tidak lagi menjadi milik industri berskala besar. Produk-produk hasil inovasi tersebut telah tersedia secara komersial melalui berbagai platform perdagangan daring sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudi daya skala kecil.
Ia meyakini pemanfaatan teknologi tersebut secara luas dapat mengubah wajah industri akuakultur nasional dalam beberapa dekade mendatang.
"Saya optimistis penerapan teknologi ini secara luas akan membawa perubahan besar bagi sektor akuakultur Indonesia. Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, produksi ikan budi daya diperkirakan dapat meningkat setidaknya dua kali lipat dengan kemampuan reproduksi yang berlangsung sepanjang tahun," ucapnya.
Selain meningkatkan produktivitas, teknologi tersebut juga dinilai dapat memperkuat kapasitas hatchery, mempercepat pengembangan spesies ikan budi daya baru, serta mendukung program konservasi melalui penyediaan benih untuk kegiatan restocking di perairan alami.
"Kontrol hormonal reproduksi bukan hanya teknologi untuk meningkatkan produksi, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung keberlanjutan akuakultur, dan menjaga keanekaragaman hayati perikanan Indonesia," pungkas Agus.
Editor : Adi Permana
Jumat, 26 Juni 2026 12:27 WIB
Jumat, 19 Juni 2026 11:08 WIB
Rabu, 17 Juni 2026 16:30 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...