6 jam yang lalu
Pangannews.id - Industri budidaya kepiting bakau di Indonesia masih menghadapi persoalan klasik, yakni pasokan benih yang belum stabil. Hingga kini, sebagian besar kebutuhan benih masih dipenuhi dari tangkapan alam, kondisi yang bukan hanya membatasi produktivitas, tetapi juga berpotensi menekan populasi kepiting bakau di habitat aslinya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset pemuliaan genetika melalui metode interspecific hybridization atau persilangan antarspesies kepiting bakau (Scylla spp.).
Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan benih dengan pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, serta memiliki efisiensi pakan yang lebih baik untuk mendukung keberlanjutan industri budidaya.
Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, Delicia Y. Rahman, mengatakan kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, pengembangannya tidak cukup hanya mengandalkan pengelolaan lingkungan, tetapi juga harus diperkuat melalui peningkatan kualitas genetik.
"Kelompok Riset Genetika Fauna Akuatik BRIN secara konsisten melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna mendukung keberlanjutan ekosistem perairan," ujar Delicia, dilansir dari raman BRIN.
Menurutnya, penguatan riset juga perlu dibarengi dengan kolaborasi lintas negara agar pengembangan teknologi budidaya semakin cepat berkembang. Melalui forum ilmiah seperti Zoopedia Series, BRIN berharap terjadi pertukaran pengetahuan antara peneliti, akademisi, dan pelaku industri.
"Kami berharap terbangun kolaborasi yang lebih erat antara peneliti di dalam dan luar negeri, terjadi transfer pengetahuan yang memperkaya agenda riset masa depan, serta mendorong sinergi antara akademisi, lembaga riset, dan industri," katanya.
Peneliti PRZT BRIN, Muhammad Nur Syafaat, menjelaskan bahwa interspecific hybridization merupakan teknik pemuliaan genetik konvensional dengan menyilangkan dua spesies berbeda untuk memperoleh keturunan yang memiliki kombinasi sifat unggul.
Menurut Nur, meskipun teknologi pemuliaan berbasis molekuler seperti marker-assisted selection maupun genomic selection berkembang pesat, metode hibridisasi tetap memiliki peran penting sebagai pendekatan yang saling melengkapi dalam program pemuliaan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut harus diterapkan secara hati-hati. Varietas hasil persilangan yang terlepas ke alam dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam keberadaan populasi asli.
"Hibridisasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Kontrol yang ketat sangat diperlukan agar varietas hibrida tidak terlepas ke alam dan mengganggu kelestarian serta keamanan populasi asli," tegasnya.
Nur menjelaskan, proses menghasilkan hibrida bukan perkara mudah. Berbagai hambatan biologis masih menjadi tantangan, mulai dari perbedaan habitat, waktu reproduksi, perilaku kawin, hingga ketidakcocokan sel reproduksi. Bahkan setelah pembuahan terjadi, embrio hasil persilangan kerap gagal berkembang.
Untuk mengatasi kendala tersebut, para peneliti terus mengembangkan teknologi reproduksi berbantu, seperti Artificial Insemination (AI) dan In Vitro Fertilization (IVF), guna meningkatkan peluang keberhasilan persilangan.
Di sisi lain, persoalan utama industri budidaya saat ini masih berkisar pada keterbatasan pasokan benih. Ketergantungan terhadap benih alam membuat produksi sulit ditingkatkan secara berkelanjutan.
"Tantangan terbesar industri budidaya saat ini adalah ketidakstabilan suplai benih. Karena itu, pemuliaan kepiting bakau yang dilakukan secara terkontrol diharapkan dapat menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan cepat dan efisiensi pakan tinggi, sekaligus menjaga kelestarian populasi asli kepiting bakau di benua maritim Indonesia," ujar Nur.
Selain memaparkan perkembangan riset di Indonesia, forum tersebut juga menghadirkan peneliti dari Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology, Malaysia, Amin Safwan Adnan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kualitas air menjadi faktor paling menentukan keberhasilan budidaya kepiting bakau.
Menurut Amin, keberhasilan menghasilkan benih unggul tetap harus diimbangi dengan pengelolaan kualitas lingkungan budidaya. Pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa pengendalian kualitas air yang konsisten mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan produktivitas kepiting bakau.
Editor : Adi Permana
Jumat, 26 Juni 2026 12:39 WIB
Jumat, 26 Juni 2026 12:27 WIB
Jumat, 19 Juni 2026 11:08 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...